Sabtu, 17 Juni 2017

Nhw 5

Assalammualaikum,

Minggu ini kuliah online IIP sudah memasuki minggu ke 5, yang artinya juga sampailah pada nhw 5. Tidak terasa udah separuh jalan dan makin terasa tambah bikin kepala nyut2x-an πŸ˜‚. Kali ini kita disuruh untuk membuat desain pembelajaran dan kurikulumnya. Mudahkah ? Serasa pingin nangis guling2x kayaknya 😝. Jujur saya ngeblank banget, ini maksudnya gimana dan bikinnya bagaimana
Tapi okelah, saya akan coba semampu saya.

Bismillahirahmanirrahiim

Dari segi bahasa, menurut Wikipedia, desain pembelajaran adalah praktek peyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapst terjadi transfer pengetahuan scara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran dan merancang perlakuannya berbasis media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis (dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru atau dalam latar berbasis komunitas). Hasil dari pembelajaran ini dapat diamati secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah/benar2x tersembunyi dan hanya berupa asumsi.

Sampai disini apakah saya sudah mengerti  ? Tidak juga, hahahaha. Tambah mumet iya πŸ˜“. Terus gimana dong ? Sebagai langkah awal, saya coba petik point2xnya dulu ya.

1. Pembelajar yaitu pihak yang menjadi fokus komponen
2. Tujuan pembelajaran, yaitu penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar
3. Analisis pembelajaran, yaitu proses menganalisis topik/materi yang akan dipelajari
4. Strategi pembelajaran
5. Bahan ajar, yaitu format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
6. Penilaian belajar

Dalam nhw 1 saya memutuskan untuk menunda ilmu sabat, yang pada dasarnya adalah pengembangan diri, demi mencapai tujuan yaitu mendampingi anak2x hingga mandiri dan meraih masa depannya. Bagaimana perumusannya ?

1. Pembelajar : Dian Meridha Giza

2. Tujuan pembelajaran :
a) Dapat lebih mengenali emosi diri dan   mengendalikannya, terutama saat berhadapan dengan anak, dengan segala tingkah polahnya (manajemen emosi)
b) Memanage waktu dan rutinitas sedemikian rupa sehingga dapat menentukan skala prioritas dan mengurangi bahkan menghilangkan pekerjaan2x yang tidak perlu sehingga dapat lebih banyak membersamai anak dengan kualitas yang lebih baik (manajemen waktu dan rutinitas)
c) Konsisten dengan segala perencanaan dan aktivitas yang telah dibuat (ilmu konsistensi)

3.  Analisis pembelajaran : pengendalian diri, inner child, pendidikan berbasis fitrah, ilmu agama, komunikasi dengan anak

4. Strategi pembelajaran : mendengarkan, melihat/menonton materi secara online/offline mengikuti seminar, diskusi (terutama dalam forum komunitas yang diikuti, seperti IIP)

5. Bahan ajar :  buku parenting dan agama, tulisan ahli parenting (misal ibu Elly risman n family di medsos), ceramah ustad by online

6. Penilaian belajar : sesuai dengan hasil belajar dalam kurun waktu tertentu (sesuai milestone)

Kira2x seperti inilah desain pembelajaran menurut sepahaman saya, semoga dapat berguna, terutama bagi saya sendiri demi menuju kedepan yang lebih baik, insya allah, amin


Sabtu, 10 Juni 2017

NHW 4

Assalammualaikum,

Kembali lagi dengan nhw, yang sekarang udah masuk episode 4. Kali ini kita diminta untuk mereview kembali nhw yang sudah dibuat sebelumnya (1-3) dan memastikan lagi akan jurusan ilmu yang akan kita tekuni ditambah dengan ilmu2x pendukungnya dan membuat tujuan hidup yang diinginkan.

Dalam nhw 1, saya memilih ilmu sabar. Bila dirunut lebih jauh lagi, sesuai dengan contekan dari mba Maria Ulfa, sang fasil tercinta, sepertinya ini lebih ke arah pengembangan diri, terutama manajemen emosi, waktu dan rutinitas. Hal ini sesuai dengan tujuan awal saya  bergabung dengan IIP ini, yaitu menjadi pribadi yang lebih baik. Kenapa ? To the honest, saya adalah orang yang sangat baperan. Apa2x dibawa emosi, mulai dari hal kecil sampai yang besar sekalipun. Itu semua sering bikin saya kemrungsung ga jelas dan ujungnya anak yang jadi kena semprot. Karena itu insya Allah saya akan tetap berusaha menekuni ilmu ini demi bisa melangkah ke jenjang berikutnya.

Untuk nhw 2, sejauh ini progresnya memang masih naik turun. Belum semua indikator bisa saya penuhi, baik sebagai individu/pribadi, istri maupun ibu. Mungkin saya kurang sungguh2x / konsisten dalam menjalankannya, tapi saya akan terus berlatih dan berusaha agar semua ceklist itu dapat terpenuhi, toh target itu kan saya buat agar saya dapat menjadi lebih baik.

Dalam nhw 3, saya menuliskan bahwa kehadiran saya di dunia ini dalam keluarga kecil saya adalah sebagai pengingat/reminder terutama dalam hal beribadah. Tapi makin digali, saya sadar bahwa yang paling penting sebenarnya adalah mendampingi anak2x saya dalam menjalani kehidupannya, sesuai dengan fitrahnya, hingga mereka bisa mandiri, meraih masa depannya dan membawa manfaat bagi orang lain (at least menjadi role model positif bagi generasinya). Ya, materi tentang pendidikan sesuai fitrah ini memang seakan menyadarkan saya yang seringkali lupa akan fitrah anak dan lebih sering menginginkan mereka untuk A B C D dan sebagainya.

Untuk itu tahapan KM yang harus saya capai dari sekarang adalah :

KM 0 (usia biar jadi rahasia aja ya πŸ˜›) pengembangan diri (manajemen emosi, waktu dan rutinitas. Ini sesuai dengan tujuan awal bahwa diri saya sendiri dululah yang harus dibenahi sebelum melangkah ke tahap selanjutnya

KM 1 mempelajari ilmu pendidikan berbasis fitrah dan komunikasi pada anak serta menerapkannya pada anak2x saya

KM 2 mempelajari ilmu agama dan menerapkannya dalam keluarga

KM 3 lebih banyak menebar manfaat bagi orang  (seperti banyak terlibat dalam kegiatan sosial ataupun memiliki usaha yang bermanfaat bagi orang lain, seperti homemade frozen food non msg)

Semoga ini semua bukanlah sekedar slogan yang muluk2x, melainkan  bisa saya capai, walau mungkin harus tertatih2x bahkan terseret2x demi membuat hidup menjadi lebih bermakna (kayak iklan yak 😝).

Sabtu, 03 Juni 2017

Nhw 3

Assalammualaikum
Ketemu lagi dengan nhw, yang sekarang udah masuk jilid 3 dan Makin mengobok-obok jiwa. Kenapa ? Karena salah satunya adalah membuat surat cinta untuk suami. My goodness, kayaknya seumur2x saya ga pernah bikin yang kayak beginian, klo dikirimin sih iya, eh salah ya 😝. Okelah, let's just try, que sera sera, whatever will be will be…..

Dear husband,
This December will be our eight wedding anniversary, Insya Allah. Did you still remember that moment ? The moment when two of us became one, in a condition that people call marriage. Did you still remember the processing ? Especially the holy one, the ijab kabul ? How time flies so fast. Almost eight years and now we already have two beautiful girls, who make our life colorful and complicated 😁.

With so many differences between us, we try to full filled each other, even it is not so easy, especially for me. Having you as a husband with all the positive and negative things in it, is like a rollercoaster which turns my mood ups and down. Sometimes it seems like I want to scream out loud when see your bad habbits. But at the other time, I can be so touched and proud with what you do, especially when handling our children. I have to admit that you do better with children than I do. Not only you can enjoy playing with them, but u can also taking care of them, from bathing, feeding and preparing them to school, while I’m busy in the kitchen preparing the food or doing other things. The most important is, you have a lot of patience for kids more than me, who seems like an evil stepmother for them πŸ˜‚. Even though I often join some seminars and tell you many things about parenting, but actually it is you who give me the real lessons in our life.

If people ask what makes me fell in love with you and agree to marry you, honestly I have no idea. Maybe it’s because we come from the same ethnic, Javanese, which hoping that there won’t be many principal differences between. Besides, maybe also because you're seem wiser that can guide me being a better person (we call it “ngemong” in Javanese).

But as time goes by, I understand the reason why Allah give you as my partner in this life. We still have a long journey in this marriage, Insya Allah, especially to raise the children, make them a godly human, useful not only for themselves but others, and accompany them to reach their own life, amin.

PS : sorry if I write this letter in English, because I feel so awkward to write it in bahasa (alias lebay bingittsss), especially since I never write any love letter before.

Alhamdulilah done. Reaksinya ? Senyum2x sambil manggut2x. Bingung kali ya, ni bini kesambet apaan ampe ngirim beginian 😝. Yo weslah paling ga kita jadi bisa mereview kembali, apa sih sebenernya tujuan pernikahan ini. Mau dibawa kemana perahu ini berlabuh, dan dimanakah nanti yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Semoga visi, yang seiring dengan doa, yaitu menjadikan rumah tangga ini sakinah mawardah warahmah dunia akhirat dan bermanfaat, tidak hanya bagi anggotanya tapi juga orang lain dan lingkungan sekitar bukanlah sekedar slogan belaka tapi bisa terwujud.

Kami mempunyai dua orang anak, yang kebetulan adalah perempuan semua. Si kakak, Naira berusia 6.5 tahun dan adiknya, Jasmine, berusia 2.5 tahun. Alhamdulilah mereka adalah anak2x yang sehat, ceria dan aktif. Naira insya Allah July nanti akan masuk Sd, setelah sempat ditunda 1 tahun. Ditunda ? Ya, dulu saya dengan segala egonya memang terlalu cepat memasukkannya ke sekolah. Saat itu umurnya baru 2.8 tahun, dengan alasan agar ia dapat bersosialisasi dengan teman sebayanya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menunda masuk Sd, yang mengakibatkan ia duduk di tk selama 4 tahun. Duh, maafin mama ya nak πŸ˜“.

Naira adalah anak yang aktif dan tidak bisa diam, lincah bergerak sampai sering membuat saya, mamanya gemas bukan kepalang. Walaupun prestasinya di sekolah biasa saja, tapi berdasarkan keterangan dari gurunya, Naira adalah anak penolong. Ia sering menjadi penengah di antara teman2xnya ataupun menolong temannya mengambilkan buku pelajaran sesuai yang dimaksud gurunya, walaupun (saat itu) ia sendiri belum bisa membaca. Bagaimana caranya ? Ternyata Naira hafal tiap detail dari buku2x tersebut, sehingga dia tau mana buku yang diminta oleh gurunya dengan hanya melihat gambarnya saja tanpa harus membacanya. Selain itu Naira juga senang sekali bercerita. Ia bisa menceritakan sesuatu dengan runut dan detail. Dibanding akademis, Naira memang terlihat lebih menonjol di bidang seni, terutama menyanyi dan menari. Mungkin karena darah seni yang mengalir dari orangtuanya (saya dan suami memang sempat mengikuti kegiatan menari selama beberapa waktu). Dari tes Stifin yang pernah diikuti, kecerdasan Naira adalah tipe Intuiting Introvert, dimana indra keenamlah yang menjadi otak kreatifnya, yang kemudian dikemudikan dari dalam keluar sehingga cenderung menjadi trendsetter di lingkungannya, dengan “kata” sebagai kekuatannya. Sejauh ini sih memang matching dengan kesehariannya. Maka dari itu kami memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah alam agar ia bisa lebih luas mengeksplorasi daya berpikirnya.

Sementara si adik, Jasmine, hampir mirip dengan kakaknya. Senang menyanyi dan menari, bahkan bisa dibilang lebih mahir dalam mengeksplorasi kata2x dibanding sang kakak. Dengan mengacu pada multiple intelligence, sepertinya anak2x kami memiliki kecerdasan musical, bodily kinesthetic, logical, linguistics, visual spacial dan interpesonal (u kakak).

Beralih ke diri saya, saya adalah manusia biasa dengan segudang kelemahan. Namun di balik itu semua insya Allah masih ada terselip beberapa potensi diri yang tidak terlalu buruk πŸ˜„. Saya terlahir dari keluarga sederhana dimana semuanya bener2x dimulai dari bawah. Ayah saya adalah seorang pekerja keras yang memulai segala sesuatunya dari nol. Sejak saya dan adik2x kecil, ayah  sudah mencoba untuk mengenali potensi bakat dari anak2xnya. Kami bertiga diikutkan les menari, musik dan bahasa inggris. Saya memang  senang menari dan sempat berkeinginan untuk menjadi seorang penari. Tapi kemudian cita2x tersebut terhalang oleh kendala dalam menemukan sanggar guna menyalurkan bakat saya tersebut lebih lanjut (saat itu informasi masih sangatlah terbatas).

Saat ini, terlebih setelah mempunyai anak, saya mulai menekuni kegiatan memasak, hal yang dulu amat sangat jarang saya lakukan, kecuali membuat kue pada saat2x tertentu, misalnya lebaran. Sebenarnya untuk memasak ini awalnya adalah karena terpaksa, mau tidak mau tapi harus bisa. Lha iya lah ya, namanya juga udah berumah tangga, masa mau jajan melulu, bisa tekor itu budget bulanan πŸ˜‚. Alhamdulilah makin kesini saya tambah menyukai kegiatan ini, terutama dalam mencoba resep2x baru, apalagi klo ternyata cocok dengan kesukaan anak2x. Bahkan bila diibaratkan, lebih baik saya disuruh memasak di dapur selama 2 jam daripada menemani anak2x bermain, he3x klo ini jangan ditiru ya πŸ˜….

Dalam soal agama, walaupun saya terlahir dari keluarga dengan pengetahuan agama yang tergolong biasa saja, namun Insya Allah sampai saat ini saya berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas ibadah saya. Tanpa bermaksud riya, mungkin inilah kehendak Allah dengan kehadiran saya di tengah2x keluarga kecil saya, sebagai pengingat dalam hal beribadah, terutama terkait dengan kealpaan suami sebagai imam, walaupun ia berasal dari keluarga yang lebih agamis.

Saya sangat menyadari bahwa di akhir jaman yang makin tidak karuan ini, peran agama, terutama dalam membentuk akhlak keluarga, sangatlah penting. Kami berusaha untuk sebisa mungkin menerapkan nilai2x agama dalam kehidupan sehari2x, mulai dari hal2x kecil yang amat sepele. Misalnya, kami membiasakan anak2x kami untuk selalu mengucapkan salam setiap masuk rumah, membaca doa sebelum mengerjakan segala sesuatu dan bersyukur setiap mendapat nikmat. Kami iΓ±gin menjadikan anak2x kami sebagai  teladan bagi teman2xnya bahwa begini lho caranya menjadi generasi sekarang. Generasi masa depan yang positif tanpa harus tergerus oleh hal2x yang tidak baik/tercela, yang dapat menghancurkan diri sendiri, dengan menerapkan nilai2x/akhlak yang baik sesuai dengan ajaran agama masing2x. Karena kami muslim, kami iΓ±gin agar anak2x dan bahkan keluarga kami bisa menjadi semacam duta dengan menebar kebaikan dalam menjalani hidup ini, yang sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah sebagai agama rahmatan lil alamin. Hal ini tentu saja sangat tidak mudah, apalagi saya dan suami juga masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami harus tetap terus belajar, bahkan lebih keras lagi agar kelak bila kami sudah tiada, ada jejak kebaikan yang dapat kami tinggalkan, amin.