Kamis, 30 November 2017

List Kemandirian

Assalammualaikum

Tantangan 17 hari game level 2


Setelah selesai game level 1 kemarin serta beberapa hari rehat, sekarang masuklah saya kepada game level 2, alias naik 1 tingkat, yeayyy alhamdulilah. Di sini kami diharuskan untuk membuat list kemampuan kemandirian yang akan dilatihkan, bisa kepada anak, suami atau diri sendiri (bagi yang masih single). Saya akan memilih anak sebagai target operasinya, yaitu si sulung, Naira (again ☺️). Kenapa ? Jujur, saya amat sangat geregetan melihat tingkah polah kesehariannya. Mandiri sebetulnya, cuma masih lambat dan tidak fokus (mbulet dan ketuwat ketuwet klo orang Jawa bilang 😬). Hal ini menyebabkan hampir semua kegiatan menjadi terlambat, terutama saat persiapan ke sekolah, dan saya yang terbawa emosi dalam menyemangatinya  (baca : memburunya supaya bergegas πŸ˜‚).

Sebetulnya klo mau dibikin list akan sangat panjang sekali, tapi saya akan coba untuk mengambil beberapa yang paling dasar, yang seharusnya sudah sangat mahir dilakukan oleh anak usia 7 tahun.

And here it is :
1. Makan sendiri sampai habis bersih dan diam di tempatnya sampai selesai. Kenapa ? Karena setiap makan dan makanan itu tinggal sedikit, Naira mesti minta tolong saya/papanya untuk mengumpulkan makanan tersebut agar mudah disendok. Selain itu, saat makan, ia sering bermain ataupun berjalan2x dengan berbagai alasan (misal : ambil minum, ambil kerupuk, megang spidol, menggambar dsb).
2. Mandi dengan sempurna. Naira masih minta tolong saya untuk menggosok badannya setelah sabunan untuk melunturkan daki/kotoran yang masih bersisa, serta minta tolong di handuki/keringkan badannya.
3. Menyisir rambut sendiri. Sampai sekarang Naira belum mau menyisir rambutnya dan selalu minta kami (orangtuanya) untuk menyisirkan. Mungkin ada benarnya, karena kemarin itu rambutnya cukup panjang sehingga memang agak sulit bagi seorang anak 7 tahun untuk menyisirnya karena mesti kusut setiap habis mandi. Tapi minggu kemarin rambut itu sudah dipotong pendek sebahu, dengan harapan bahwa ia mau belajar menyisir rambutnya.


Hari ini dimulai dengan urusan makan. Dari sarapan sampai makan malam Naira masih minta saya untuk mengumpulkan sisa makanan yang tinggal sedikit dalam piringnya dan masih bermain saat menghabiskan sisa bekal makan siangnya di rumah serta pada saat makan malam.

Naira : "ma, tolong kumpulin nasinya".
Mama : "kumpulin sendiri dong, kan kakak udah bisa".
Naira : "susah ini tinggal sedikit".
Mama : "coba dibantu pake kerupuk ngambilnya pasti bisa".
Naira : "susah ini ma".

Akhirnya pada saat sarapan saya turun tangan juga, karena dia udah hampir terlambat masuk sekolah. Begitu juga saat menghabiskan sisa bekal makan siangnya. Saya akui pake tempat makan memang agak susah untuk mengumpulkan makanan karena sempit dan tidak selebar piring. Tapi saat makan malam, ia mengumpulkannya sendiri, walau sambil berdiri karena sibuk menata segala botol yang ada di dalam kamar tidur (lotion, bedak, parfum dll) 🀦‍♀️


Jatibening, menjelang pukul sebelas malam
Dian Meridha Giza




Sabtu, 25 November 2017

Aliran Rasa

Aliran rasa tantangan 10 hari game level 1


Tantangan 10 hari komunikasi produktif baru aja usai. Tanpa bermaksud riya, bagi saya tantangan ini bisa dibilang susah2x gampang. Yang membuat susah adalah karena dalam 1 hari saya harus bisa mendapatkan 1 momen dimana saya bisa bersikap waras dalam menghadapi segala macam tingkah polah anak2x. Sehingga bisa menerapkan si komunikasi produktif ini. Bukan hal mudah karena saya amat mudah terpancing emosi (baca : ga sabaran 😬) oleh tingkah mereka yang memang menurut saya sering menyebalkan. Terutama klo timingnya mereka juga lagi ga pas, ngantuk dan capek misalnya. 

Sebetulnya klo dilihat lagi sih cuma masalah sederhana, mulai dari pemilihan baju, makanan, piring, mandi, sampai rebutan barang. Tapi karena saya termasuk yang maunya serba cepat, tentu saja itu menjadi masalah πŸ˜‚. Dan klo udah bisa menerapkannya, sebetulnya mereka cukup bisa diajak kerja sama juga, jadi mudah kan, hehehehe.

Harus lebih banyak belajar dan latihan lagi, terutama dalam memahami bahwa mereka itu (anak2x) sebetulnya bisa diarahkan, hanya memang terkadang (sering malah bagi saya 🀦‍♀️) prosesnya tidaklah berjalan seperti yang kita mau, tapi tetap harus dijalani dan dinikmati, karena seperti kata orang bijak, waktu kecil mereka amatlah singkat, dan tanpa terasa mereka akan beranjak dewasa serta meninggalkan kita, orang tuanya, guna mencari kehidupannya sendiri.

Duh klo inget ini sedih betul dan rasanya pingin menjalani hari dengan mereka tanpa konflik alias selalu manis2x aja dalam sikap dan perbuatan. Tapi kayaknya kurang seru ya klo datar2x aja begitu 🀣. Harapan saya, semoga makin hari saya bisa menambah tingkat kewarasan saya dalam mengasuh dan menghadapi segala macam tingkah mereka, sehingga ga jadi mommy shark melulu,  amin ☺️


Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Sabtu, 18 November 2017

Catering

Assalammualaikum,

Tantangan hari 17 game level 1

Yeay the last day πŸ˜….  Just don't believe that i could do it 😚. 

Ok, kali ini topiknya adalah catering. Beberapa hari ini Naira memang sering sekali minta catering untuk bekal makan siangnya di sekolah. Hal ini dikarenakan ada beberapa teman sekelasnya yang memang memakai jasa catering untuk bekal makan siang. Catering yang dimaksud adalah catering sekolah yang dikelola oleh salah seorang orang tua murid. Tentu saja saya keberatan. Apa pasal ? Karena walaupun tidak selihai koki restaurant, insya allah saya masih sanggup untuk memasak dan membawakan bekal snack dan makan siang Naira dengan menu yang cukup bervariasi. Terutama juga karena posisi saya adalah di rumah saja atau ranah domestik yang tidak mengharuskan saya untuk pergi bekerja. Ya tapi karena namanya anak2x, mesti terpengaruh juga oleh teman2xnya. 

Hingga sampailah kami kepada suatu dialog sambil menikmati makan di meja makan. "Kakak kepingin catering ?", tanya saya. "Iya ma", jawabnya. "Emang siapa aja yang catering ?", tanya saya lagi. "Ya banyak. Ada Namiya, Amalta, Ataya, Dhafi, terus masih ada lagi", lanjutnya. "Mamanya Namiya bukannya di rumah ya ? Kok pake catering segala ? Emang ga masak ?". "Ya kadang2x sih ma. Kadang catering, kadang bawa bekal. Yang lain juga gitu", katanya. "Emang menu cateringnya apa kak ? Ada buahnya juga ? Palingan pisang doang kan ya ?", saya mulai mangkel πŸ™„. "Macem2x ma. Ada ayam kriuk, sayur, puding ada apelnya", kilahnya. "Mama juga bisa bikin ayam kriuk. Kan kakak udah pernah bawa juga. Emang masakan cateringnya enak kak ? Kakak udah pernah cobain belum?", mama mulai getegetan 😬. "Tapi kan aku pingin yang di catering, rasanya enak kok", jawabnya lagi. "Kak, klo catering itu kan mahal. Lagian yang makan kakak doang. Klo mama masak kan bisa buat adek juga, terus mama, papa ampe mba pun kebagian. Nanti kita ga bisa jalan2x ke mall lho, karena uangnya abis untuk catering", saya coba memberikan masukan. "Tapi aku pingin catering ma, sekali aja", kilahnya lagi. "Masakan catering kan mama ga tau pake mici atau engga. Nti klo banyak micinnya gimana ?", mama makin kesel πŸ˜’. Dia hanya diam sambil pasang muka cemberut.

Dan demikianlah, Naira masih keukeuh minta catering walau saya sudah jabarkan beberapa alasan. Sepertinya komprod agak macet di tengah jalan, mungkin beberapa waktu kemudian bisa dicoba lagi 🀦‍♀️


Jatibening, jam setengah 12 malam
Dian Meridha Giza

Jumat, 17 November 2017

Cuci Piring

Assalammualaikum,

Tantangan hari 16 game level 1

Setelah makan malam : "Kak, kayaknya dulu kan klo abis makan suka nyuci piring ya ? Sekarang tolong mama dong, nyuci piringnya kakak. Yang bekas kakak aja. Yang lain ga usah, biar mama nti. Klo ga salah temen2xnya kan juga suka nyuci piring ya klo abis makan ?".

Ya, beberapa waktu lalu anak2x memang sempat suka mencuci piringnya sendiri setelah makan malam. Kadang saya yang meminta, tapi sering juga atas inisiatif sendiri. Bahkan sampai berebut malah antara si kakak dan si adik. Tapi namanya juga anak2x, kebiasaan itu masih angot2x-an. Dan sudah berapa waktu kebiasaan itu menguap entah kemana πŸ˜…. Kemarin2x Naira memang sempat bercerita klo teman2xnya suka mencuci piringnya sehabis makan. Mumpung nih, pikir saya, coba ah untuk melanjutkan kebiasaan dulu itu. 

"Iya ma, Amalta juga sering nyuci piring", jawabnya. Dan tak lama ia pun membawa piring kotornya ke wastafel untuk kemudian dicuci. Ternyata, tidak hanya piring bekas makannya saja yang ia cuci, tapi semua piring dan gelas kotor yang ada di wastafel dicuci oleh Naira. Memang kebetulan piring dan gelas kotornya tidak banyak, tapi tetap amazed untuk saya, karena tadinya saya pikir ia akan mengeluarkan sekian alasan untuk menolak tetapi ternyata ia mengerjakannya tanpa membantah sedikitpun. Good job kakak Nai😘


Jatibening, menjelang jam 11 malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 16 November 2017

Mbulet

Assalammualaikum,


Tantangan hari 15 game level 1


Salah satu kebiasaan buruk Naira adalah tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu atau berlama2x untuk suatu alasan dan ritual yang tidak penting. Kami sering menyebutnya dalam bahasa Jawa sebagai mbulet alias muter2x ga jelas. 


Seperti sore ini. Saya membangunkannya dari tidur siang sejak menjelang setengah lima sore. Namun ia baru bangun menjelang pukul lima, itupun setelah misuh2x karena mungkin tidurnya dirasa masih kurang 🀦‍♀️. "Kak, sekarang udah jam 5. Kakak belum shalat Ashar. Mau shalat Ashar atau mandi dulu ?". "Aku mau shalat dulu", jawabnya. "Ya udah cepetan, karena waktunya udah mau habis", lanjut saya. "Iya", katanya lagi. 


Kemudian saya ke dapur membuat teh. Dan ketika saya lihat lagi ke kamar, masya allah, ini anak belum ngapa2x-in πŸ˜“. "Kak, mau shalat atau tidak ? Udah jam 5 lebih, waktu ashar udah mau habis", kata saya dengan setengah jengkel. "Iya ini mau shalat ma", jawab Naira. Dan selanjutnya bisa ditebak, drama mbulet makin menjadi. Mulai yang izin mau pipis, mau pake mukena saya, sampai mau wudhu pun dia bilang dulu ke saya 😬. Yang ada saya makin jengkel. "Kakak mau shalat ga sih ? Ini jam kan jalan terus kak. Sebentar lagi mau maghrib. Waktu shalat ashar udah habis. Atau ga usah shalat ashar aja ?", lanjut saya dengan berusaha menahan intonasi agar nada tidak meninggi. Duh geregetan pisan rasanya πŸ™„.


Akhirnya Naira shalat ashar pada jam setengah enam. Itu pun masih dengan gaya ketuwat ketuwet alias santai atawa lambat πŸ˜’. Masih gagal sepertinya komprod untuk drama mbulet ini. Emak masih kalah 1 set 😒


Jatibening, jam sebelas malam

Dian Meridha Giza

Rabu, 15 November 2017

Clash

Assalammualaikum,

Tantangan hari 14 game level 1

Hari ini ceritanya tentang si kecil Jasmine dan Zahra, anak ART saya. Mereka memang sepantaran dengan beda usia Zahra lebih tua 1 tahun. Setiap hari mereka kerap bermain bersama. Kadang akur, kadang ribut. Ya, Jasmine memang lebih agresif bila dibandingkan dengan Naira. Dalam keseharian pun seringkali Naira yang menangis bila bertengkar. 

Seperti kali ini. Mungkin karena faktor mengantuk, Jasmine agak kesal dengan Zahra, sehingga ia marah2x sepanjang waktu bermain. Zahra pun menangis karena dimarahi terus. Ia pergi ke ibunya yang sedang menyeterika dan meninggalkan Jasmine sendirian di ruang tengah. Jasmine pun mutung alias ngambek πŸ˜“.

Saya coba mengajak bicara sambil memeluknya. "Zahra kenapa dek ? Kok nangis ?". Dia hanya diam sambil merengut. "Berantem sama adek ?"."Abis Zahranya tu, adek kan sebel", jawabnya. "Ya udah minta maaf yuk", ajak saya. "Ga mau", katanya lagi. "Lhah kenapa ga mau ?, tanya saya. "Eh, klo berantem kan harus baikan lagi lho, minta maaf. Sama kayak adek sama kakak. Klo berantem terus minta maaf kan y", lanjut saya. Jasmine masih diam sambil pasang muka BT 🀦‍♀️. "Adek kan anak baik ya. Anak baik itu klo abis berantem sama temannya, terus minta maaf. Terus udah gitu main bareng lagi deh. Klo ga minta maaf nti ga punya temen. Ih ga enak deh". 

Selang beberapa menit setelah mematung, akhirnya Jasmine mau meminta maaf kepada Zahra, walaupun harus saya temani dan berulang kali saya bujuk kembali.


Jatibening, setengah sebelas malam
Dian Meridha Giza

Selasa, 14 November 2017

Kelengkeng

Assalammualaikum,

Tantangan hari 13 game level 1

Diantara sekian banyak keributan dan perebutan, hari ini adalah kelengkeng salah satunya. Menjelang maghrib setelah makan malam, Naira dan Jasmine menikmati buah kelengkeng yang hanya tinggal 4 butir saja. Sebetulnya tidak ada masalah karena bila dibagi dua pun masing2x anak mendapatkan jumlah yang sama. Naira sang kakak sudah mengerti dan menyetujui hal tersebut sewaktu saya jelaskan. Namun tidak dengan si adik, Jasmine.

Walaupun pada awalnya dia seakan mengerti, tapi setelah bagiannya habis, ia mengambil kelengkeng kakaknya yang masih bersisa 1 buah. Entah karena memang belum paham atau sekedar iseng saja anak ini. Yang pasti ini membuat Naira gusar terhadap adiknya. Gawat, dalam hati saya, akan ada huru hara menjelang azan maghrib ini 🀦‍♀️. Akhirnya saya mencoba bicara pada Jasmine.

"Adek, kelengkengnya tolong kembalikan ke kakak ya. Kan itu kelengkeng kakak. Tadi adek udah makan 2 kan ya ? Sama, punya kakak juga 2, tapi kakak baru dimakan 1. Kembalikan ya, besok kita beli lagi klo pas ke tip top", jelas saya. Namun Jasmine bersikeras tidak mau mengembalikannya. Bahkan ia memasukkan kelengkeng tersebut ke dalam mulutnya. Naira makin ribut dan hampir menangis. Saya pun juga gemas dibuatnya πŸ˜†. 

"Adek, tolong dong sayang, kelengkengnya jangan dimakan. Itu kan punya kakak. Ayo dong anak cantik, nti kita beli lagi kok klo belanja ke tip top", lanjut saya sambil harap2x cemas. Untungnlah setelah berulang kali dijelaskan, Jasmine mau memgembalikan kelengkeng tersebut kepada kakaknya. Fiuh, lega saya πŸ˜‚


Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza


Senin, 13 November 2017

Handukan

Assalammualaikum,

Tantangan hari 12 game level 1

Walaupun sudah bisa mandi sendiri, Naira kerap kali meminta tolong saya untuk mengelap tubuhnya dengan handuk (handukan) setelah mandi. Karena ia selalu mandi berdua dengan adiknya, acara ini sudah bisa dipastikan menjadi pemicu pertengkaran antara siapa yang duluan πŸ™„.

Begitu juga dengan pagi ini. Keduanya bersikeras minta dihanduki duluan tanpa ada yang mau mengalah. Akhirnya saya mengeluarkan peraturan sbb : "gini aja deh, daripada tiap hari rebutan terus, gimana klo gantian aja ? Hari ini adek, besok kakak. Besoknya lagi adek, terus kakak lagi, gitu. Setuju ga ?" kata saya. Awalnya mereka masih saling ngeyel, terutama Jasmine yang mulai mengeluarkan senjatanya, yaitu nangis 😬. Sementara Naira hanya bisa merengut kesal dengan wajah yang tak kalah memelas πŸ˜₯.

"Gimana nih, ga ada yang mau ?" tanya saya lagi. "Emang ga capek klo tiap hari ribut terus ? Nti klo gantian enak deh, milih bajunya bisa lebih cepet". Dan akhirnya mereka setuju, malah sampai tidak ada yang mau duluan, melainkan saling menyuruh satu dan yang lain untuk duluan 🀦‍♀️



Jatibening, setengah sebelas malam
Dian Meridha Giza




Minggu, 12 November 2017

Mandi

Assalammualaikum,

Mencoba melakukan yang sunnah setelah yang wajib selesai alias tantangan hari 11 game level 1

Hari ini setelah anak2x latihan menari, kami pergi ke salah satu mall di bekasi untuk bermain, sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh kemarin, 11 Novermber.  Sampai di rumah pada pukul setengah delapan malam. Anak2x udah teler kecapean, begitu juga orang tuanya. 

Perlu waktu lama untuk saya menyuruh Jasmine untuk mandi. Pasti ada aja alasannya. Mulai dari tidur di kasur sampai minta di bukakan buah matoa.

Akhirnya saya memcoba untuk mengikuti maunya. "Adek, sini mama kupasin buahnya. Enak ya ?. kata saya. "Nti abis kupas 1 lagi, kita mandi ya." Anaknya mengangguk tanda setuju.

Ternyata setelah buahnya habis, si adek malah kembali  menghindar saat disuruh mandi 😬. 

Sepertinya batal ya mba πŸ˜“


Jatibening, jam 11 malam
Dian Meridha Giza


Sabtu, 11 November 2017

Side by Side

Assalammualaikum,

Tantangan hari 10 game level 1

Yeayyyy, finally touch down on 10th day πŸ˜€. Kali ini cerita berlangsung di mobil dalam perjalanan pulang dari suatu kunjungan. Posisi duduk kami adalah suami pegang kemudi, sementara saya dan anak2x duduk di kursi belakang. Saya berada di sebelah kiri, Naira di kanan, mengapit Jasmine. 

Ketika adiknya berdiri, Naira menempel pada saya minta dipeluk. Hal ini membuat adiknya tidak suka dan menyuruh sang kakak kembali ke tempatnya. Dan seperti biasa pertengkaran pun terjadi πŸ˜’. Naira menginginkan agar saya pindah posisi duduk di tengah, bertukar dengan adiknya. Tapi adiknya tidak mau, ributlah mereka. Kemudian saya ingat perkataan seorang teman kala kedua anaknya berebut perhatian sang ibu. Lalu saya coba praktekkan kepada si adik, yang cenderung lebih keras kepala πŸ™„.

"Adek, mama pindah ke tengah ya. Kakak juga pingin duduk samping mama". Tapi si adik tetap tidak mau, "ga boleh", katanya. "Lho anak mama kan ada 2, kakak sama adek. Kasihan kakak, dia juga pingin duduk di samping mama kayak adek", lanjut saya. Nti klo kakak nangis gimana ?". Boleh ya  ?". Setelah beberapa saat terdiam, Jasmine pun membolehkan saya untuk tukar tempat duduk dengannya. Dan suasana mobil pun tenang kembali  πŸ˜Š

Jatiebening, menjelang jam 11 malam.
Dian Meridha Giza

Jumat, 10 November 2017

Rebutan Piring

Assalammualaikum,

Tantangan hari 9 game level 1

Pagi hari ketika mau sarapan. Terjadi insiden rebutan piring antara Naira dengan adiknya, Jasmine. Yang diperebutkan adalah piring beling yang ada gambarnya. Biasanya Nairalah yang memakai piring tersebut. Namun kali ini si adik sudah melihat dan meminta lebih dahulu untuk memakainya, karena Naira masih berpakaian. 

Ribut ? Jelassss 😫. Ga ada yang mau ngalah, termasuk si adik yang wataknya memang lebih keras dibanding kakaknya. Coba dilerai tapi tidak berhasil. Dan diakhiri dengan menangisnya Naira sambil masuk ke dalam kamar 🀦‍♀️. Tak lama saya ikut masuk ke kamar dan mencoba membujuknya. 

"Kakak ngalah aja y, kan kemarin2x udah pake piring itu terus. Sekarang gantian adek yang pake, besok kakak lagi. Lagian tadi adek udah bilang duluan juga". "Ga mau, kan aku biasanya juga pake piring itu", jawabnya. Lhah priben ki, mamak bingung 😬. Apapun yang dibilang, Naira tetap saja bersikeras tidak mau mengalah. "Ya udah, nti siang coba mama cari, siapa tau piringnya masih ada lagi (padahal saya juga ga yakin apakah memang piring seperti itu masih ada lagi di lemari πŸ˜‚). Tapi klo ga ada, besok juga makenya gantian ya, soalnya kan adek pingin pake juga", lanjut saya.

Dia mengangguk dan menghentikan tangisnya, lalu keluar kamar untuk sarapan. Lega saya 🀣.


Jatibening, jam setengah sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 09 November 2017

Pisang

Assalammualaikum,

Tantangan hari ke 8, game level 1

Kali ini subyeknya adalah anak ke-2 saya, Jasmine, yang baru berusia 3 tahun. Temanya adalah pisang.

Jadi ceritanya Jasmine itu suka sekali makan pisang. Dia selalu minta saya untuk mengupaskan buah tersebut untuknya, walaupun sebenarnya ia sudah bisa mengupasnya sendiri. Namun setiap kali saya minta ia untuk mengupas, ia selalu tidak mau, dan meminta saya untuk mengupaskannya. 

Begitu juga hari ini. Pagi hari sambil bermain ia minta diambilkan dan dikupaskan buah pisang. Kembali saya mencoba untuk menyuruhnya mengupas sendiri, tapi ia menolak as usual. Kebetulan ada anak ART saya yang sepantaran dengan usia yang lebih tua 1 tahun. Anak ini memang selalu ikut ibunya bekerja dan kerap saya beri makanan apa saja yang tengah dimakan oleh anak2x saya, termasuk pisang ini. Tiba2x terlintas ide supaya Jasmine mau mengupas pisangnya sendiri.

"Adek, ayo kupas pisangnya balapan sama Zahra ya. Nti siapa yang menang. Kan adek juga udah pinter",kata saya. Tanpa banyak alasan, Jasmine pun segera mengupas pisangnya. "Adek menang", katanya. "Yeay, gitu dong. Bisa kan", lanjut saya. Alhamdulilah πŸ˜„


Jatibening, jam setengah sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Rabu, 08 November 2017

Kaos Kaki

Assalammualaikum,

Tantangan hari 7 game level 1

Masih di seputaran pagi hari, persiapan sekolah. Tiba2x dapat laporan dari papanya klo Naira ga mau pake kaos kaki ke sekolah. Alasannya adalah karena ada beberapa temannya yang tidak menggunakan kaos kaki saat ke sekolah.

O ya, sekolah Naira ini modelnya memang seperti sekolah alam. Tempat yang digunakan adalah rumah sang pemilik yang sekaligus sebagai kepala sekolah. Ruangan kelasnya terbuka, dan kegiatan belajar pun tidak melulu di dalam kelas.  Sekolah ini menganut sistem inklusi, dimana setiap anak dibiarkan untuk berkembang sesuai dengan tahapannya masing2x. Sekolah alam wanna be, begitu saya menyebutnya. Selama kegiatan di sekolah, siswa memang menggunakan sandal, jadi sepatu hanya dipakai saa berangkat dan pulang. Hal ini juga yang menyebabkan beberapa murid ada yang tidak menggunakan kaos kaki bahkan sepatu seperti di sekolah standar, termasuk teman kelasnya Naira.

Sambil membantunya gosok gigi, saya mencoba mengajaknya bicara. "Kakak kenapa ga mau pake kaos kaki ? Karena kemarin Namiya ga pake ya ?". Namiya adalah teman sekelasnya dan kebetulan pas kemarin saya jemput sempat lihat klo dia memang tidak pake kaos kaki. "Emang Namiya kenapa kok ampe ga pake kaos kaki ?", lanjut saya. "Namiya itu sepatunya masih kebesaran ma, jadi dia ga pake kaos kaki", jawabnya. "Kebesaran ? Justru klo sepatu kebesaran itu harus pake kaos kaki, jadi bisa pas dan ga longgar", jawab saya. "Sekolah itu harus rapi dan sopan lho kak. Kan sekolah tempat kakak belajar, jadi harus dihargai. Walaupun di sekolah terus ganti pake sandal, tapi klo berangkat dan pulang tetap harus rapi, pake sepatu dan kaos kaki. Biarin aja klo ada temennya yang ga pake kaos kaki. Kakak ga usah ikut2xan. Banyak juga anak2x sekolah yang ga bisa pake kaos kaki. Karena mereka ga punya uang untuk beli. Padahal mereka pingin banget tu bisa pake sepatu dan kaos kaki. Jadi nti tetep pake kaos kaki ya", tegas saya lagi. Tidak ada jawaban, tapi dia kembali memakai kaos kakinya. 

Alhamdulilah ga sampe perang urat, walau tetep aja mulut ini nyerocos kayak kereta api πŸ˜….


Jatibening, setengah 11 malam
Dian Meridha Giza

Selasa, 07 November 2017

Tantrum

Assalammualaikum,

Tantangan hari 6 game level 1

Ga terasa ya udah hari ke 6 aja, hihihihihi. Episode kali ini adalah tantrum. Ya, walaupun beberapa hari lagi genap berusia 7 tahun, Naira masih saja suka tantrum. Terutama klo lagi kecapean dan kurang istirahat (baca : tidur). 

Seperti sore ini. Cerita dimulai saat bangun tidur sekitar pukul setengah lima sore. Setelah sebelumnya main dan bercanda dengan adiknya, yang berakhir dengan insiden si adik muntah, akhirnya kedua anak tersebut baru tidur siang sekitar jam setengah empat. Mungkin karena tidurnya dirasa belum cukup, Naira bangun dengan ngambek ga jelas (sepertinya juga pengaruh efek saya marahi karena bikin adiknya muntah πŸ˜“). Puncaknya adalah dia nangis minta digendong turun dari tempat tidur keluar kamar. Karena tidak saya turuti, dia ngamuk nangis teriak2x sambil nendang2x di kasur. Duh nyebelin tingkat dewalah pokoknya. Klo mau nurutin hawa nafsu, pingin rasanya saya ikut marah dan berteriak seperti yang biasanya sering saya lakukan. Tapi saya mencoba untuk tidak terpancing dan hanya duduk di sisi tempat tidur sambil sesekali bermain dengan adiknya (hal ini memang sempat beberapa kali saya lakukan jika anak2x saya mulai tantrum). Sesekali saya timpali tangisannya dengan pertanyaan yang saya sendiri pun sudah tau tidak berguna dalam situasi seperti ini, "kakak mau apa sih, gendong ? Udah besarlah, masa minta gendong, berat kali. Boleh gendong tapi nenen dulu ya." Yang ada dia tambah ngamuk πŸ˜‚ 

Selang setengah jam amukannya mulai reda dan minta ditemani keluar kamar. Setelah benar2x reda, saya sodorkan minum juga kue yang sempat saya beli siang tadi. Sambil bertanya, "udahan kak nangisnya, capek ?". Dia cuma senyum2x aja. Yah bocah begitu amat yak πŸ™„. 

Malamnya sempat saya tanya lagi kenapa tadi kok nangis dan ngamuk ampe kayak begitu. Jawabannya tetap sama, pingin minta gendong katanya. Ampun dj nduk πŸ˜†


Jatinening, jam 11 malam
Dian Meridha Giza

Senin, 06 November 2017

Table Manner

Assalammualaikum,

Tantangan hari ke 5 di game level 1

Kali ini mengenai adab makan. Anak2x saya memang sedikit ribet klo mengenai masalah makan. Apa hal ? Ya, mereka jarang sekali bisa duduk diam di kursi menghabiskan makanannya. Yang ada adalah petakilan kesana kemari, sambil bermain. Terutama Naira. Sepertinya anak itu memang tidak bisa diam, pun saat makan. Berulang kali saya kasih tau, nasihat sampai omelan, jeranya hanya sesaat. Selanjutnya ? Wallahu alam πŸ˜“

Seperti sore ini. Tumben dia sudah minta makan pada pukul setengah lima pada saat saya menyuruhnya mandi (semoga ini bukan pengalihan dari suruhan untuk mandi 😬). As usual, dia makan sambil bermain kesana kemari, bercanda dengan adiknya, yang juga sedang makan. Saya pun kesal dibuatnya. Teriakan untuk makan sambil duduk tidak digubrisnya. Akhirnya saya tanya,"kakak klo di sekolah makan juga sambil lari2x ya ? Perasaan kemarin ada yang bilang klo makan itu harus duduk. Tidak boleh jalan2x apalagi sambil main dan lari2x". Dia tidak menjawab, tapi segera kembali ke tempat duduk dan menghadapi piringnya. Sayangnya itu hanya sesaat, karena tak lama kemudian dia pun turun dari kursi dan kembali bermain sambil makan dengan adiknya. 

Dan saya pun menghela napas πŸ˜“

Minggu, 05 November 2017

Getting Shower

Assalammualaikum

Tantangan hari 4 game level 1.

Adalah kami yang sedang mengikuti kegiatan camping dari sebuah komunitas mobil yang diikuti oleh suami. Rencana awal berangkat pada jumat malam (3 nov) diundur menjadi sabtu siang (4 nov). Hal ini dikarenakan Naira ada acara di sekolah, yaitu open day music, yang teramat sayang klo harus dilewatkan, karena selama 1 minggu ini dia dan teman2xnya sudah berlatih terus. Jadilah suami berangkat jumat sore, sementara saya dan anak2x menyusul pada sabtu siang.

Kejadiannya pada saat mandi pagi, minggu (5 nov). Naira yang sudah bisa dan selalu mandi sendiri minta dimandikan bareng adiknya. Menurut pengamatan saya, ini mungkin karena keadaan kamar mandi yang tidak senyaman di rumah dan kondisi cuaca + air yang sangat dingin. Namun saya bersikeras agar ia mau mandi sendiri, bersebelahan dengan saya yang memandikan adiknya. Tapi ia tetap tidak mau juga. Jujur saya kesal dan akhirnya menuruti keinginannya dimandikan dengan mulut yang tidak hentinya mengomel. 

Kemudian saya ingat salah satu poin komprod dengan merealisasikan pengalaman dibanding menasihati (sambil ngomel tentunya πŸ˜’). "Dulu mama waktu camping juga mandi sendiri lho kak. Mana kamar mandinya jauh lagi. Kamar mandinya besar, kayak kamar mandi ini yang digabung jadi 1 tapi ga ada pintu pemisahnya. Sekarang kakak enak, diajak camping sama papa mama, jadi nti klo camping sama sekolah dan teman2x udah ga kaget. Dulu mama mana pernah diajak camping sama akung dan yangti. Jadi waktu camping agak2x bingung gitu. Nanti klo camping lagi, kakak mandi sendiri y, kan mama temenin dari luar". Ia pun mengangguk dan mengiyakan.


Jatibening, menuju jam 11 malam
Dian Meridha Giza

Sabtu, 04 November 2017

Get Ready

Assalammualaikum

Tantangan hari ke 3 dimulai pada pagi hari. Hari ini kakak Naira ada acara open day music di sekolah. Kebetulan sejak kemarin sore suami tidak ada, pergi camping. Ini artinya saya yang harus menyiapkan anak2x plus masak untuk sarapan dan makan siang. Naira termasuk susah untuk bangun pagi. Tiap hari suami perlu waktu paling tidak setengah jam untuk membangunkannya tiap hari. Sejak malam hari saya sudah sounding bahwa besok kita harus bangun pagi dan kakak Na harus bantu mama untuk mempersiapkan dirinya sendiri, terutama karena papa yang biasa membantu mama tidak ada. 

Pukul enam pagi anak2x mulai pada bangun, walaupun kemudian mereka masih leyeh2x di kasur, at least berkurang 1 pekerjaan saya, yaitu membangunkan mereka, terutama Naira yang memang lebih susah dibangunkan dibandingkan adiknya. Sambil masak di dapur, saya berteriak menyuruh mereka mandi dan sarapan. Tapi tidak ada yang bergeming, terutama Naira. 2-3 kali tetap saja belum ada yang keluar kamar. Akhirnya saya masuk ke kamar dan mendekati Naira.

"Kakak hari ini ada open day music kan y ? Kakak mau ikut ga ?". "Mau", jawabnya. "Kata miss Sri (gurunya), kakak harus sampai di sekolah jam 8. Sekarang udah jam setengah tujuh. Kakak mau mandi atau sarapan dulu ?", lanjut saya. "Ehm, sarapan", katanya. "Ya udah, sekarang ayo keluar kamar. Sarapannya roti yang mama bikin kemarin". Akhirnya dia keluar kamar dan mengambil sepotong roti manis. Saya kembali ke dapur melanjutkan memasak. 

Ternyata eh ternyata mereka makan roti sambil bermain. Kembali saya berteriak dari dapur agar mereka makan sambil duduk dan menyegerakan untuk menghabiskannya. Teriakan saya bagaikan angin lalu saja bagi mereka. Berulang kali Naira cuma menjawab iya, tanpa ada perubahan. Mereka tetap bermain, bahkan sang roti malah digeletakkan di meja makan 🀦‍♀️. Kembali saya dekati Naira dan bertanya, "kakak jadi ikut open day ga ?". "Iya", jawabnya. "Sekarang udah jam tujuh lewat. Klo kakak main terus nti akan terlambat ke sekolahnya. Apa kita ga usah ke sekolah dan main aja di rumah ?. "Mau ke sekolah ma", jawabnya. "Klo mau ke sekolah, habiskan rotinya", lanjut saya. "Iya", katanya. Lalu mengambil roti di meja makan.

Begitu berulang2x, saya meleng sedikit, mereka brrmain lagi. Dan saya harus mendekatinya untuk berbicara, dibanding sekedar berteriak saja.

Untungnya selesai mandi, acara mbulet tidak berkelanjutan. 

Jalan tol jakarta cikampek, jam 3 sore
Dian Meridha Giza

Jumat, 03 November 2017

Tahu dan Tempe

Assalammualaikum,

Masuk tantangan hari 2 dengan objek masih si kakak alias Naira.

Kejadian di meja makan waktu sarapan. Kebetulan menu sarapan tadi pagi adalah nasi plus tahu tempe sisa semalam yang masing2x hanya tinggal 1 buah. Wah repot nih, kata saya dalam hati. Klo dihidangkan di meja dan anak2x disuruh memilih pasti akan timbul keributan. Tapi klo langsung dipilihkan dengan meletakkannya di piring masing2x, udah hampir bisa dipastikan 11 12 alias sama aja. Akhirnya saya memilih opsi kedua, dengan pertimbangan Naira lebih suka tempe daripada tahu.

Benar saja, Naira protes kenapa dia dikasih tempe, sementara adiknya dikasih tahu (walaupun tempe adalah kesukaannya). Malas rasanya berdebat pagi2x, apalagi untuk urusan sepele kayak gini (dari sudut pandang saya sebagai orang dewasa lho, sementara untuk anak2x, udah bisa dipastikan that this is such a big thing πŸ˜†). Akhirnya saya bilang (sambil pasang muka sok bingung πŸ˜‰), "tempe itu bukannya kesukaan kakak ya. Perasaan semalam juga kakak minta tempe goreng untuk bekal sekolah nanti. Atau mungkin mama yang salah denger mungkin ? Ya sudah klo gitu kita tuker aja ya, tempenya untuk adik, dan kakak makan tahu". "Ga usah, aku tempe aja", jawabnya sambil masih cemberut. "Ga apa2x kok klo mau dituker. Kan tahu juga sama2x enak, untuk mama sih. Klo kakak kan lebih enak tempe ya", lamjut saya lagi. Dia cuma senyum2x doang sambil makan sarapannya 🀣.

O ya, untuk tantangan yang kemarin sepertinya cukup berhasil, karena Naira memang tidak menangis dan ngamuk mencari saya seperti biasanya. Hanya sedikit terbangun minta diselimuti lalu tidur lagi. Alhamdulilah ☺️


Jatibening, jam 10 malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 02 November 2017

My Big Girl Baby

Assalammualaikum, Setelah libur hampir 3 bulan lamanya, kuliah online IIP pun dimulai kembali. Alhamdulilah lulus matrikulasi dan naik ke kelas bunda sayang. Sebetulnya agak ragu juga apakah saya bisa konsisten untuk mengerjakan tugasnya, yang sekarang dinamakan sebagai tantangan, karena harus dikumpulkan tiap hari minimal selama 10 hari dari 15 hari yang diberikan. Jiper ? Of course. Tapi sudah sampai sejauh ini apakah mau mundur ? Rasanya sayang pake bingitttsss deh πŸ˜‚. Ya sudah akhirnya diputuskan untuk maju terus, mudah2x-an bisa konsisten ngejalaninnya. Untuk game level 1 ini materinya adalah komunikasi produktif. Kepada siapa ? Bisa pasangan alias suami ataupun anak. Keliatannya simple ya tapiiiii pada prakteknya emang masih suka belibet alias ga karuan sehingga ga tercapai tujuan yang diinginkan/dimaksud dan berakhir dengan baper 🀣. Di tantangan day 1 saya memakai anak pertama saya sebagai target. Namanya Naira, yang sering kita panggil Na atau kakak. Tgl 11 ini insya allah akan genap 7 tahun dan sekarang sudah duduk di kelas 1 SD. What's the problem ? Here's then Sejak kena mumps/gondongan sekitar 1,5 bulan lalu, Na memang agak bertambah kolokan/manjanya, terutama sama saya, ibunya. Setiap tidur maunya dikeloni/dipeluk terus, which is harus bergantian dengan adiknya. Sekitar sebulanan ini, dia sering sekali terbangun pada tengah malam dan akan mencari saya untuk minta dikeloni kembali. Adapun keadaan kamar kami adalah kami masih tidur berempat dalam 1 kamar (saya, suami dan kedua anak kami). Anak2x tidur di tempat tidur, sementara saya dan suami tidur di bawah menggunakan kasur tambahan. Masalahnya beberapa bulan ini, rintitis alergi saya makin menjadi. Saya yang biasanya kuat/tahan dengan udara dingin, sekarang rasanya ringkih banget. Klo tengah malam terbangun, mesti jadi batuk, pilek ataupun hidung mampet. Padahal posisi AC ada di atas tempat tidur, jadi saya memang tidak bisa mengeloni Na ampe pagi, karena tengah malam bila terbangun saya akan pindah ke kasur bawah dengan maksud supaya Na juga ga tergantung kelonan terus karena memang sudah besar (modus aja sih kayaknya ini supaya bisa kelonan sama bapake 😝). Seminggu ini malah dia ampe nangis2x klo terbangun tengah malam mencari saya minta dikeloni lagi. Klo udah gitu si adik pun ikut terbangun dan minta hal yang sama, nah seru deh tu, yang ada emak jadi pusing pala barbie 🀣. And that's why i give my big girl baby as the title, abis kayak balik jadi bayi lagi 😊 Sebetulnya dari kemarin2x saya udah observasi dan coba tanyakan, kenapa kakak kok tiap malam mesti nangis cari mama ? Dia cuma senyum2x sambil pura2x sibuk main dan ga denger saya ngomong 😫. Sehubungan dengan adanya tantangan ini, saya coba cari celah lagi untuk ngomong ke anak ini. Dengan intonasi serendah mungkin di saat dia tidak terlalu fokus dengan mainannya, saya coba tanya lagi. "Kak, kok klo malam mesti nangis cari mama ? Kan udah mama keloni. Mama emang ga bisa lama2x karena sekarang mama ga kuat dingin. Nti yang ada malah hidung mama jadi mampet terus batuk dan bersin2x. Kakak kan juga mesti tau klo mama keloni (anak ini emang suka kebangun klo saya mau ngeloni dia). Emang kakak maunya gimana ?". Sambil senyum2x dia jawab, "aku maunya dikasih tau klo mama ngeloni aku". "Lha bukannya kakak udah tau ?", timpal saya. "Iya aku sering lupa", katanya lagi. "Ya udah nti mama kasih tau klo mama mau ngeloni tapi kakak janji ga boleh nangis y ?"sambil saya sodorin kelingking tanda persetujuan. "Iya", jawabnya sambil ngaitkan kelingking tanda setuju. "Janji lho ya" teges saya lagi. "Ho-oh", katanya. O ya, dari hasil observasi sepertinya ada faktor kecapean juga karena memang anak2x saya klo kurang istirahat, saat tidur malam mesti akan ngamuk tanpa sadar. Memang jadwal sekolah lumayan padat, masuk setengah delapan pagi, keluar jam 14:10. Itupun sudah sekolah yang agak santai dari cara belajarnya, sekolah alam wanna be klo saya bilang. Tapi tetep aja sih, dengan rentang waktu segitu agak memaksakan untuk kelas sd, apalagi baru kelas 1. Untungnya lokasi dekat jadi perjalanan hanya makan waktu 10-15 menit dengan kendaraan roda 4. Sampai rumah juga susah untuk tidur siang, maunya main saja. Akhirnya saya biarkan dia main, dengan jadwal makan yang harusnya setelah shalat maghrib dimajukan menjadi setengah jam sebelum maghrib. Sehingga setelah shalat maghrib dan hafalan surat pendek dan doa sehari2x langsung menyiapkan buku dan baju untuk besok lalu persiapan tidur (cuci kaki, ganti baju dan gosok gigi). Tapi namanya anak2x, yang ada jadwal suka meleset, apalagi anak2x saya terkenal suka mbulet alias ngalor ngidul klo mengerjakan sesuatu, jadinya ga kelar2x. Jadwal jam 8 udah harus tidur, sering meleset jadi jam 9 πŸ˜“ Sebetulnya saya tanda tanya juga, gimana ngasih taunya, lha wong udah tidur juga. Klo pas kebangun, lha klo engga πŸ˜‚. Ya wislah saya tetap akan bisikin dia klo ini mama lagi ngeloni kakak. Kira2x untuk hasilnya gimana ya ? Saya juga belum tau, mesti nunggu besok kayaknya, hehehehe Untuk family forum, biasanya kita suka ngobrol bareng komplit itu hari sabtu atau minggu karena suami pulang kerja seringnya malam saat anak2x udah tidur. Udah ah segini dulu, perasaan kok jadi ngalor ngidul ga karuan, peace ya mba fasil Fitroh Handayani ✌️☺️ Jatibening, 45 menit menuju jam 12 malam Dian Meridha Giza

My Big Girl Baby

Assalammualaikum,

Setelah libur hampir 3 bulan lamanya, kuliah online IIP pun dimulai kembali. Alhamdulilah lulus matrikulasi dan naik ke kelas bunda sayang. Sebetulnya agak ragu juga apakah saya bisa konsisten untuk mengerjakan tugasnya, yang sekarang dinamakan sebagai tantangan, karena harus dikumpulkan tiap hari minimal selama 10 hari dari 15 hari yang diberikan. Jiper ? Of course. Tapi sudah sampai sejauh ini apakah mau mundur ? Rasanya sayang pake bingitttsss deh πŸ˜‚. Ya sudah akhirnya diputuskan untuk maju terus, mudah2x-an bisa konsisten ngejalaninnya.

Untuk game level 1 ini materinya adalah komunikasi produktif. Kepada siapa ? Bisa pasangan alias suami ataupun anak. Keliatannya simple ya tapiiiii pada prakteknya emang masih suka belibet alias ga karuan sehingga ga tercapai tujuan yang diinginkan/dimaksud dan berakhir dengan baper 🀣.

Di tantangan day 1 saya memakai anak pertama saya sebagai target. Namanya Naira, yang sering kita panggil Na atau kakak. Tgl 11 ini insya allah akan genap 7 tahun dan sekarang sudah duduk di kelas 1 SD. 

What's the problem ?

Here's then

Sejak kena mumps/gondongan sekitar 1,5 bulan lalu, Na memang agak bertambah kolokan/manjanya, terutama sama saya, ibunya. Setiap tidur maunya dikeloni/dipeluk terus, which is harus bergantian dengan adiknya. Sekitar sebulanan ini, dia sering sekali terbangun pada tengah malam dan akan mencari saya untuk minta dikeloni kembali. Adapun keadaan kamar kami adalah kami masih tidur berempat dalam 1 kamar (saya, suami dan kedua anak kami). Anak2x tidur di tempat tidur, sementara saya dan suami tidur di bawah menggunakan kasur tambahan. Masalahnya beberapa bulan ini, rintitis alergi saya makin menjadi. Saya yang biasanya kuat/tahan dengan udara dingin, sekarang rasanya ringkih banget. Klo tengah malam terbangun, mesti jadi batuk, pilek ataupun hidung mampet. Padahal posisi AC ada di atas tempat tidur, jadi saya memang tidak bisa mengeloni Na ampe pagi, karena tengah malam bila terbangun saya akan pindah ke kasur bawah dengan maksud supaya Na juga ga tergantung kelonan terus karena memang sudah besar (modus aja sih kayaknya ini supaya bisa kelonan sama bapake 😝). Seminggu ini malah dia ampe nangis2x klo terbangun tengah malam mencari saya minta dikeloni lagi. Klo udah gitu si adik pun ikut terbangun dan minta hal yang sama, nah seru deh tu, yang ada emak jadi pusing pala barbie 🀣. And that's why i give  my big girl baby as the title, abis kayak balik jadi bayi lagi 😊

Sebetulnya dari kemarin2x saya udah observasi dan coba tanyakan, kenapa kakak kok tiap malam mesti nangis cari mama ? Dia cuma senyum2x sambil pura2x sibuk main dan ga denger saya ngomong 😫. Sehubungan dengan adanya tantangan ini, saya coba cari celah lagi untuk ngomong ke anak ini. Dengan intonasi serendah mungkin di saat dia tidak terlalu fokus dengan mainannya, saya coba tanya lagi.
"Kak, kok klo malam mesti nangis cari mama ? Kan udah mama keloni. Mama emang ga bisa lama2x karena sekarang mama ga kuat dingin. Nti yang ada malah hidung mama jadi mampet terus batuk dan bersin2x. Kakak kan juga mesti tau klo mama keloni (anak ini emang suka kebangun klo saya mau ngeloni dia). Emang kakak maunya gimana ?". Sambil senyum2x dia jawab, "aku maunya dikasih tau klo mama ngeloni aku". "Lha bukannya kakak udah tau ?", timpal saya. "Iya aku sering lupa", katanya lagi. "Ya udah nti mama kasih tau klo mama mau ngeloni tapi kakak janji ga boleh nangis y ?"sambil saya sodorin kelingking tanda persetujuan. "Iya", jawabnya sambil ngaitkan kelingking tanda setuju. "Janji lho ya" teges saya lagi. "Ho-oh", katanya.

O ya, dari hasil observasi sepertinya ada faktor kecapean juga karena memang anak2x saya klo kurang istirahat, saat tidur malam mesti akan ngamuk tanpa sadar. Memang jadwal sekolah lumayan padat, masuk setengah delapan pagi, keluar jam 14:10. Itupun sudah sekolah yang agak santai dari cara belajarnya, sekolah alam wanna be klo saya bilang. Tapi tetep aja sih, dengan rentang waktu segitu agak memaksakan untuk kelas sd, apalagi baru kelas 1. Untungnya lokasi dekat jadi perjalanan hanya makan waktu 10-15 menit dengan kendaraan roda 4. Sampai rumah juga susah untuk tidur siang, maunya main saja. Akhirnya saya biarkan dia main, dengan jadwal makan yang harusnya setelah shalat maghrib dimajukan menjadi setengah jam sebelum maghrib. Sehingga setelah shalat maghrib dan hafalan surat pendek dan doa sehari2x langsung menyiapkan buku dan baju untuk besok lalu persiapan tidur (cuci kaki, ganti baju dan gosok gigi). Tapi namanya anak2x, yang ada jadwal suka meleset, apalagi anak2x saya terkenal suka mbulet alias ngalor ngidul klo mengerjakan sesuatu, jadinya ga kelar2x. Jadwal jam 8 udah harus tidur, sering meleset jadi jam 9 πŸ˜“

Sebetulnya saya tanda tanya juga, gimana ngasih taunya, lha wong udah tidur juga. Klo pas kebangun, lha klo engga πŸ˜‚. Ya wislah saya tetap akan bisikin dia klo ini mama lagi ngeloni kakak. 

Kira2x untuk hasilnya gimana ya ? Saya juga belum tau, mesti nunggu besok kayaknya, hehehehe

Untuk family forum, biasanya kita suka ngobrol bareng komplit itu hari sabtu atau minggu karena suami pulang kerja seringnya malam saat anak2x udah tidur.

Udah ah segini dulu, perasaan kok jadi ngalor ngidul ga karuan, peace ya mba fasil Fitroh Handayani ✌️☺️


Jatibening, 45 menit menuju jam 12 malam
Dian Meridha Giza