Sabtu, 23 Desember 2017

Aliran Rasa 2

Assalammualaikum,

Aliran rasa tantangan game level 2

Kembali dengan aliran rasa, kali ini setelah melewati tantangan 10 hari game level 2, melatih kemandirian. Yang saya rasakan selama mengerjakan tantangan ini adalah perlunya konsistensi dan kesabaran dalam melatih anak supaya bisa bener2x mandiri. Dari 3 list kemandirian yang saya buat, hanya 1 yang berhasil dilakukan dalam tantangan ini, yaitu makan sendiri sampai habis bersih tanpa dibantu sama sekali dan tetap diam di tempat. 

Bikin geregetan sebetulnya, terutama karena saya tergolong orang yang ga sabaran 😂. Hampir putus asa juga, padahal hanya untuk hal sepele y 🙄. Tapi klo dilakukan dengan sungguh2x memang hasilnya cukup baik. Semoga untuk list2x berikutnya saya bisa lebih waras dalam melatih kemandirian untuk anak2x saya, amin.


Jatibening, setengah sebelas malam
Dian Meridha Giza

Selasa, 12 Desember 2017

Menyisir Rambut - Day 2

Assalammualaikum,

Tantangan hari 12 game level 2

Tantangan hari ini masih belum mengena, apalagi berhasil. Naira jelas2x menolak, bahkan menangis sambil merajuk saat saya membujuknya untuk mulai belajar menyisir rambutnya sendiri. Saya pun ikut senewen dibuatnya 🤦‍♀️


Jatibening, setengah 12 malam
Dian Meridha Giza

Senin, 11 Desember 2017

Menyisir Rambut

Assalammualaikum,

Tantangan hati 11 game level 2


Setelah list 1 selesai, sekarang saya coba masuk list no 3, yaitu menyisir rambut. Untuk mempermudah, saya menyediakan sisir garpu bagi Naira untuk belajar menyisir rambutnya sendiri.

Mama : "kak, mulai sekarang belajar nyisir rambut sendiri y. Ini mama sediain sisir garpu biar gampang".
Naira : "ga mau ma, susah".
Mama : "di coba dulu, gampang kok".
Naira : "engga ah".

Kemudian Naira lari menuju papanya untuk minta disisirkan 🤦‍♀️



Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Minggu, 10 Desember 2017

Makan - Day 10

Assalammualaikum,

Tantangan hari 10 game level 2

Alhamdulilah hari ini keadaan makin membaik. Kebetulan tadi siang kami makan siang di luar. Cukup tertib walau terlihat dia mulai agak bosan dan mulai gelisah, tapi berhasil makan tanpa jalan2x. Plus tambah hal baru, yaitu Naira mau dan cukup mahir (untuk ukuran anak seusianya) dalam menggunakan pisau sebagai alat bantu makan. Sepertinya hal ini termotivasi juga oleh adiknya yang cukup antusias dalam belajar memakai pisau. Makan malam pun begitu, situasi aman terkendali. Sepertinya memang sudah mulai ada perubahan, pas banget di hari ke 10, alhamdulilah ☺️


Jatibening, setengah sebelas malam
Dian Meridha Giza

Sabtu, 09 Desember 2017

Makan - Day 9

Assalammualaikum,

Tantangan hari 9 game level 2

Hari ini Naira mengikuti lomba menghias donat di dekat rumah orang tua saya bersama dengan sepupunya. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah orang tua saya. Habis itu lanjut dengan berkumpul di rumah orang tua saya. 

Situasi seperti ini (ada temannya) memang cukup kondusif bagi Naira untuk makan sendiri. Terbukti ia bisa makan tanpa mondar mandir sampai habis, walaupun belum bisa dalam waktu yang cepat. Yang sudah2x pun memang seperti ini. Bila ada temannya yang sebaya, Naira akan makan dengan lebih tertib dibandingkan bila ia hanya makan dengan adiknya. 

Apakah ini berarti saya harus mendatangkan teman sebaya setiap jam makannya ? 😬

Jatibening, setengah dua belas malam
Dian Meridha Giza

Jumat, 08 Desember 2017

Makan - Day 8

Assalammualaikum,

Tantangan hari 8 game level 2

Setelah kemarin terlewati karena hp mati dan tidak bisa d charge, hari ini insya allah saya kembali lagi. Seperti beberapa hari kemarin, urusan pengumpulan makanan sudah selesai, tinggallah kebiasaan makan sambil bermain dan main2x yang menjadi masalah. Dari 3x waktu makan, sarapan bisa dibilang sudah lulus karena Naira bisa duduk di tempatnya hingga acara makan selesai. 

Hari ini saya mencoba untuk memberikan sedikit pancingan untuknya. Saya menawarkan apakah ia mau melihati videon pernikahan saya. 

Mama : "kaka, mau lihat video nikahan mama ga ?"
Naira : "mau"
Mama : "tapi janji ya, makannya ga boleh jalan2x, harus duduk di tempat sampe makannya abis/selesai".
Naira : "okay".

Ternyata cara ini hanya bertahan sebentar. Memang sebelumnya saya telah menjanjjkan untuk melihat video pernikahan saya. Salah memang, tp untuk kali sepertinya ide ini bolehlah dicoba, karena jujur sepertinya saya juga kehabisan akal. Seperti yang telah dikatakan di atas, cara ini tidak efektif, karena Naira dan adiknya malah maju2x mendekat ke tv untuk memperjelas rasa penasarannya 🤦‍♀️


Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza


Rabu, 06 Desember 2017

Makan - Day 7

Assalammualaikum,

Tantangan hari ke 7 game level 2

Sebetulnya saya bingung mau melaporkan perkembangan apa hari ini. Karena kondisi masih sama dengan hari kemarin. Antara senang dan senep rasanya 😅. Senang karena Naira sudah tidak lagi minta bantuan untuk mengumpulkan makanannya yang tinggal sedikit. Dan senep karena ia masih saja makan sambil mondar mandir 😫. Dia hanya bisa dian saat sarapan, karena terburu waktu. Sementara lunch dan diner ? Wasalam 😂. Masih mencari dan belum juga ketemu caranya agar ia mau dan bisa konsentrasi makan sampai selesai tanpa diselingi iklan (baca : mondar mandir 🤣). 

Pun hari ini. Ditemani di meja makan, tapi begitu saya bangun untuk mengerjakan sesuatu, dia pasti ngikut, dengan alasan entah itu ambil minum, membereskan mainan adiknya, dll. Alasan yang dipaksakan 😩. Masih harus puter otak lebih keras lagi, masa kalah sama anak kelas 1 sd, hehehehe


Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Selasa, 05 Desember 2017

Makan - Day 6

Assalammualaikum,

Tantangan hari 6 game level 2

Kemajuan hari ini tidak jauh berbeda dengan kemarin. Tidak ada rengekan Naira untuk membantunya mengumpulkan makanan. Sepertinya ia sudah mau dan cukup mahir untuk hal tersebut (semoga hal ini benar adanya dan bukan mimpi siang bolong emaknya 😂). Tetapi untuk masalah jalan2x selama kegiatan makan masih menjadi PR besar. Dibilang seperti apapun rasanya kok seperti mental keluar. Setelah ditegur, baru kembali ke tempat duduknya. Tapi tak lama setelah itu, apalagi bila saya meleng, maka dia pun akan kembali berkeliling 🤦‍♀️. Memang seringkali saya menemani anak2x makan sambil mengerjakan pekerjaan ringan lain, seperti membuat teh untuk papanya, memanaskan sayur dan lauk, memasak nasi, dsb.


Tentu saja hal ini tidak boleh dibiarkan, akan menjadi kebiasaan buruk d masa datang. Semoga saya bisa secepatnya mendapatkan cara untuk hal ini.


Jatibening, menjelang sebelas malam
Dian Meridha Giza

Senin, 04 Desember 2017

Makan - Day 5

Assalammualaikum,

Tantangan hari 5, game level 2


Hari ini sepertinya keadaan makin membaik. Mulai dari sarapan, makan siang dan malam, tidak ada request dari Naira untuk membantunya mengumpulkan makanannya. Untuk masalah wara wiri juga cukup minimalis. Hanya makan siang aja yang dia masih sedikit mondar mandir dan bermain, karena kebetulan dalam 2 minggu kedepan dia pulang jam setengah 12 siang, jadi makan siang dilakukan di rumah, berbarengan dengan adiknya. O y, kebetulan tadi siang saya keluar rumah, jadi laporan untuk kegiatan makan siang saya dapatkan dari papanya. 

Sedikit masalah memang klo makan berbarengan dengan sang adik, apalagi klo pengawasan longgar 😂. Tapi sepertinya memang ada kemajuan, walau sepertinya juga masih sangat tergantung menu. Karena klo menunya dia sudah kurang sreg, maka sejuta alasan akan keluar dari mulutnya. Ini yang masih PR banget. Mudah2x-an besok juga makin membaik, hehehehe.


Jatibening, jam sebelas malam
Dian Meridha Giza

Minggu, 03 Desember 2017

Makan - Day 4

Assalammualaikum,

Tantangan hari 4 game level 2

Hari ini episode mulai membaik untuk masalah pengumpulan makanan (sepertinya terbantu oleh menu juga 😂). Dimulai dari sarapan dengan spageti yang cukup dimakan pakai garpu. Sepertinya Naira tidak mengalami kesulitan. Begitupun untuk makan siang, dengan menu yang masih sama, hanya ditambah dengan sayuran rebus dan ikan panggang butter. Kali ini Naira makan dengan menggunakan sendok. Makan malam menu juga masih sama, hanya saja spagetinya diganti oleh nasi. Sempat terucap untuk minta tolong dikumpulin tadi.

Naira : "ma, ini tolong kumpulin".
Mama : "lha kakak kan udah bisa ngumpulin sendiri. Klo males ambil garpu udah pake tangan aja (ini emang tinggal dikit banget, mungkin kira2x 1/3 sdm 😅).
Naira : "o iya, kan bisa pake kerupuk".
Mama : "nah, tu pinter".

Untuk masalah membantu pengumpulan makanan memang tidak ada masalah hari ini, karena sejak siang pun ia menggunakan kerupuk/rempeyek sebagai alat bantunya. Tapi untuk masalah tidak fokus, belum begitu teratasi. Masih saja ia nyambi mengerjakan pekerjaan lain (menggambar, ngobrol, main, seliweran), yang membuat acara makan menjadi lebih lama dan saya pub gemas dibuatnya 😢.


Jatibening, jam sebelas malam
Dian Meridha Giza


Sabtu, 02 Desember 2017

Makan - Day 3

Assalammualaikum,

Tantangan hari 3 game level 2

Masih 11 12 dengan dua hari sebelumnya. Sarapan dimulai dengan pecel tahu tanpa nasi sisa semalam. Tidak ada rengekan untuk minta dikumpulkan makanan yang tinggal sedikit. Tapiiiii itu dilakukannya sambil membuat topeng kertas 🤦‍♀️. Jadi Naira makan sambil sibuk menggambar dan menggunting. Urusan mondar mandir ? Jelassssss. Padahal saya ada di sampingnya sambil menyuapi adiknya yang tak kalah lincah kesana kemari 😫.

Makan siang dan malam kebetulan menu berkuah. Walau tidak ada rengekan minta dikumpulkan, Naira makan sambil menggambar dan menghias topeng yang dibuatnya tadi pagi. Kebetulan kali ini ditemani sama papanya. Untuk urusan mondar mandir pada saat makan malam tidak seberapa, tapi waktu makan siang cukup lumayan, karena kebetulan ada akung dan yangtinya yang berkunjung ke rumah.

Komunikasi produktif juga sepertinya belum berhasil untuk kasus ini. Karena berulang kali di ajak bicara dan di peringati, kejadiannya masih saja sama, belum ada perubahan yang signifikan. Naira bisa makan anteng dan cepat (<30 menit) serta tidak rewel untuk masalah mengumpulkan yang tinggal sedikit hanya bila bertemu dengan menu kesukaannya. Sehingga sampai saat ini saya masih berusaha mencari caranya, karena tidak mungkin juga bila setiap hari menuruti permintaannya. Bagi saya ia harus dapat menyesuaikan dengan makanan apa saja, selama itu halal, agar kelak dewasa ia juga mudah menyesuaikan diri dalam hal pemilihan makanan. Tantangan masih panjang, saatnya mencari ide baru dl 😂




Jatibening, menjelang pukul sebelas malam
Dian Meridha Giza

Jumat, 01 Desember 2017

Makan - day 2

Assalammualaikum,

Tantangan 10 hari game level 2

Hari ini saya agak kurang konsisten dalam melatih Naira untuk benar2x mandiri dalam acara makannya. Dimulai dari pagi hari yang sibuk memasak, begitu juga siang hari yang meneruskan bikin martabak untuk anak2x. Akibatnya ? Tentu saja kacau balau 🤣. Naira termasuk tipe yang harus ditongkrongi supaya dapat fokus dalam aktifitas/kegiatannya, terutama yang bersifat ritual, seperti makan, mandi dan shalat. Klo tidak, tentu saja dia akan seenak hati melakukannya (baca : disambi main dan mondar mandir 🤦‍♀️).

Karena hari libur, sarapan tadi pagi cukup ringan, yaitu hanya cilok abon bumbu pecel. Naira makan dengan menggunakan garpu, tidak ada masalah dalam pengumpulan sisa makanan yang tinggal sedikit. Tapi.......dia makan sambil mondar mandir 😂. Kebetulan dari malam ada teman papanya yang menginap di rumah. Dan papanya agak sibuk dengan temannya ini, sehingga karena merasa "bebas", Naira dan adiknya muter aja waktu diajak sarapan. Walhasil mereka sarapan berdua saja, ketinggalan dari papanya. Sementara saya juga masih sibuk di dapur sehingga tidak bisa menemani duduk terus di meja makan, walau tetap mengawasi. Jujur ini salah orangtuanya sih ya, karena tidak mendampingi anaknya 😓. 

Begitu juga saat makan siang. Kebetulan Naira makan berbarengan dengan adiknya, yang masih disuapi oleh ART kami. Lagi2x karena mamanya ga ikut nongkrongi, Naira pun makan sambil bebas mondar mandir dan main bersama dengan adiknya 😫.

Baru pada saat makan malam, saya benar2x mendampingi anak2x dengan ikut duduk di samping mereka, sambil menyuapi yang kecil. Sempat sedikit mondar mandir, tapi tidak seberapa karena ada satpam di sampingnya 🤣. Saat makanan tinggal sedikit, seperti biasa Naira merengek agar saya mau mengumpulkan makanannya. Tapi saya bersikeras tidak mau membantunya. O ya, pada saat awal makan, saya sudah membuat perjanjian bahwa nti dia harus mengumpulkan sisa makanan yang tinggal sedikit sendiri tanpa bantuan saya. Juga agar makan tetap duduk di tempat sampai selesai.

Naira : "ma, ini tolong kumpulin", sambil menyodorkan piring.
Mama : "lho kan tadi udah perjanjian, kakak harus ngumpulin sendiri".
Naira : "iya, tapi ini susah"
Mama : "ya dicoba, nti pasti bisa".
Naira : "mama aja ya, aku ga bisa ini"
Mama : "coba dibantu pake peyek (rempeyek), bisa kok".
Naira : "susah ma"
Mama : "di coba dulu"

Akhirnya dia mau dan bisa menggunakan rempeyek sebagai pengganti garpu untuk mengambil makanan yang tinggal sedikit itu.

Sepanjang waktu makan saya juga tidak henti2xnya mewarning (baca : dengan nada yang fales tentunya 😬) supaya ia tetap diam di kursi setiap akan beranjak dari tempat duduknya. Mommy shark dudududududu 🤣


Jatibening, setengah dua belas malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 30 November 2017

List Kemandirian

Assalammualaikum

Tantangan 17 hari game level 2


Setelah selesai game level 1 kemarin serta beberapa hari rehat, sekarang masuklah saya kepada game level 2, alias naik 1 tingkat, yeayyy alhamdulilah. Di sini kami diharuskan untuk membuat list kemampuan kemandirian yang akan dilatihkan, bisa kepada anak, suami atau diri sendiri (bagi yang masih single). Saya akan memilih anak sebagai target operasinya, yaitu si sulung, Naira (again ☺️). Kenapa ? Jujur, saya amat sangat geregetan melihat tingkah polah kesehariannya. Mandiri sebetulnya, cuma masih lambat dan tidak fokus (mbulet dan ketuwat ketuwet klo orang Jawa bilang 😬). Hal ini menyebabkan hampir semua kegiatan menjadi terlambat, terutama saat persiapan ke sekolah, dan saya yang terbawa emosi dalam menyemangatinya  (baca : memburunya supaya bergegas 😂).

Sebetulnya klo mau dibikin list akan sangat panjang sekali, tapi saya akan coba untuk mengambil beberapa yang paling dasar, yang seharusnya sudah sangat mahir dilakukan oleh anak usia 7 tahun.

And here it is :
1. Makan sendiri sampai habis bersih dan diam di tempatnya sampai selesai. Kenapa ? Karena setiap makan dan makanan itu tinggal sedikit, Naira mesti minta tolong saya/papanya untuk mengumpulkan makanan tersebut agar mudah disendok. Selain itu, saat makan, ia sering bermain ataupun berjalan2x dengan berbagai alasan (misal : ambil minum, ambil kerupuk, megang spidol, menggambar dsb).
2. Mandi dengan sempurna. Naira masih minta tolong saya untuk menggosok badannya setelah sabunan untuk melunturkan daki/kotoran yang masih bersisa, serta minta tolong di handuki/keringkan badannya.
3. Menyisir rambut sendiri. Sampai sekarang Naira belum mau menyisir rambutnya dan selalu minta kami (orangtuanya) untuk menyisirkan. Mungkin ada benarnya, karena kemarin itu rambutnya cukup panjang sehingga memang agak sulit bagi seorang anak 7 tahun untuk menyisirnya karena mesti kusut setiap habis mandi. Tapi minggu kemarin rambut itu sudah dipotong pendek sebahu, dengan harapan bahwa ia mau belajar menyisir rambutnya.


Hari ini dimulai dengan urusan makan. Dari sarapan sampai makan malam Naira masih minta saya untuk mengumpulkan sisa makanan yang tinggal sedikit dalam piringnya dan masih bermain saat menghabiskan sisa bekal makan siangnya di rumah serta pada saat makan malam.

Naira : "ma, tolong kumpulin nasinya".
Mama : "kumpulin sendiri dong, kan kakak udah bisa".
Naira : "susah ini tinggal sedikit".
Mama : "coba dibantu pake kerupuk ngambilnya pasti bisa".
Naira : "susah ini ma".

Akhirnya pada saat sarapan saya turun tangan juga, karena dia udah hampir terlambat masuk sekolah. Begitu juga saat menghabiskan sisa bekal makan siangnya. Saya akui pake tempat makan memang agak susah untuk mengumpulkan makanan karena sempit dan tidak selebar piring. Tapi saat makan malam, ia mengumpulkannya sendiri, walau sambil berdiri karena sibuk menata segala botol yang ada di dalam kamar tidur (lotion, bedak, parfum dll) 🤦‍♀️


Jatibening, menjelang pukul sebelas malam
Dian Meridha Giza




Sabtu, 25 November 2017

Aliran Rasa

Aliran rasa tantangan 10 hari game level 1


Tantangan 10 hari komunikasi produktif baru aja usai. Tanpa bermaksud riya, bagi saya tantangan ini bisa dibilang susah2x gampang. Yang membuat susah adalah karena dalam 1 hari saya harus bisa mendapatkan 1 momen dimana saya bisa bersikap waras dalam menghadapi segala macam tingkah polah anak2x. Sehingga bisa menerapkan si komunikasi produktif ini. Bukan hal mudah karena saya amat mudah terpancing emosi (baca : ga sabaran 😬) oleh tingkah mereka yang memang menurut saya sering menyebalkan. Terutama klo timingnya mereka juga lagi ga pas, ngantuk dan capek misalnya. 

Sebetulnya klo dilihat lagi sih cuma masalah sederhana, mulai dari pemilihan baju, makanan, piring, mandi, sampai rebutan barang. Tapi karena saya termasuk yang maunya serba cepat, tentu saja itu menjadi masalah 😂. Dan klo udah bisa menerapkannya, sebetulnya mereka cukup bisa diajak kerja sama juga, jadi mudah kan, hehehehe.

Harus lebih banyak belajar dan latihan lagi, terutama dalam memahami bahwa mereka itu (anak2x) sebetulnya bisa diarahkan, hanya memang terkadang (sering malah bagi saya 🤦‍♀️) prosesnya tidaklah berjalan seperti yang kita mau, tapi tetap harus dijalani dan dinikmati, karena seperti kata orang bijak, waktu kecil mereka amatlah singkat, dan tanpa terasa mereka akan beranjak dewasa serta meninggalkan kita, orang tuanya, guna mencari kehidupannya sendiri.

Duh klo inget ini sedih betul dan rasanya pingin menjalani hari dengan mereka tanpa konflik alias selalu manis2x aja dalam sikap dan perbuatan. Tapi kayaknya kurang seru ya klo datar2x aja begitu 🤣. Harapan saya, semoga makin hari saya bisa menambah tingkat kewarasan saya dalam mengasuh dan menghadapi segala macam tingkah mereka, sehingga ga jadi mommy shark melulu,  amin ☺️


Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Sabtu, 18 November 2017

Catering

Assalammualaikum,

Tantangan hari 17 game level 1

Yeay the last day 😅.  Just don't believe that i could do it 😚. 

Ok, kali ini topiknya adalah catering. Beberapa hari ini Naira memang sering sekali minta catering untuk bekal makan siangnya di sekolah. Hal ini dikarenakan ada beberapa teman sekelasnya yang memang memakai jasa catering untuk bekal makan siang. Catering yang dimaksud adalah catering sekolah yang dikelola oleh salah seorang orang tua murid. Tentu saja saya keberatan. Apa pasal ? Karena walaupun tidak selihai koki restaurant, insya allah saya masih sanggup untuk memasak dan membawakan bekal snack dan makan siang Naira dengan menu yang cukup bervariasi. Terutama juga karena posisi saya adalah di rumah saja atau ranah domestik yang tidak mengharuskan saya untuk pergi bekerja. Ya tapi karena namanya anak2x, mesti terpengaruh juga oleh teman2xnya. 

Hingga sampailah kami kepada suatu dialog sambil menikmati makan di meja makan. "Kakak kepingin catering ?", tanya saya. "Iya ma", jawabnya. "Emang siapa aja yang catering ?", tanya saya lagi. "Ya banyak. Ada Namiya, Amalta, Ataya, Dhafi, terus masih ada lagi", lanjutnya. "Mamanya Namiya bukannya di rumah ya ? Kok pake catering segala ? Emang ga masak ?". "Ya kadang2x sih ma. Kadang catering, kadang bawa bekal. Yang lain juga gitu", katanya. "Emang menu cateringnya apa kak ? Ada buahnya juga ? Palingan pisang doang kan ya ?", saya mulai mangkel 🙄. "Macem2x ma. Ada ayam kriuk, sayur, puding ada apelnya", kilahnya. "Mama juga bisa bikin ayam kriuk. Kan kakak udah pernah bawa juga. Emang masakan cateringnya enak kak ? Kakak udah pernah cobain belum?", mama mulai getegetan 😬. "Tapi kan aku pingin yang di catering, rasanya enak kok", jawabnya lagi. "Kak, klo catering itu kan mahal. Lagian yang makan kakak doang. Klo mama masak kan bisa buat adek juga, terus mama, papa ampe mba pun kebagian. Nanti kita ga bisa jalan2x ke mall lho, karena uangnya abis untuk catering", saya coba memberikan masukan. "Tapi aku pingin catering ma, sekali aja", kilahnya lagi. "Masakan catering kan mama ga tau pake mici atau engga. Nti klo banyak micinnya gimana ?", mama makin kesel 😒. Dia hanya diam sambil pasang muka cemberut.

Dan demikianlah, Naira masih keukeuh minta catering walau saya sudah jabarkan beberapa alasan. Sepertinya komprod agak macet di tengah jalan, mungkin beberapa waktu kemudian bisa dicoba lagi 🤦‍♀️


Jatibening, jam setengah 12 malam
Dian Meridha Giza

Jumat, 17 November 2017

Cuci Piring

Assalammualaikum,

Tantangan hari 16 game level 1

Setelah makan malam : "Kak, kayaknya dulu kan klo abis makan suka nyuci piring ya ? Sekarang tolong mama dong, nyuci piringnya kakak. Yang bekas kakak aja. Yang lain ga usah, biar mama nti. Klo ga salah temen2xnya kan juga suka nyuci piring ya klo abis makan ?".

Ya, beberapa waktu lalu anak2x memang sempat suka mencuci piringnya sendiri setelah makan malam. Kadang saya yang meminta, tapi sering juga atas inisiatif sendiri. Bahkan sampai berebut malah antara si kakak dan si adik. Tapi namanya juga anak2x, kebiasaan itu masih angot2x-an. Dan sudah berapa waktu kebiasaan itu menguap entah kemana 😅. Kemarin2x Naira memang sempat bercerita klo teman2xnya suka mencuci piringnya sehabis makan. Mumpung nih, pikir saya, coba ah untuk melanjutkan kebiasaan dulu itu. 

"Iya ma, Amalta juga sering nyuci piring", jawabnya. Dan tak lama ia pun membawa piring kotornya ke wastafel untuk kemudian dicuci. Ternyata, tidak hanya piring bekas makannya saja yang ia cuci, tapi semua piring dan gelas kotor yang ada di wastafel dicuci oleh Naira. Memang kebetulan piring dan gelas kotornya tidak banyak, tapi tetap amazed untuk saya, karena tadinya saya pikir ia akan mengeluarkan sekian alasan untuk menolak tetapi ternyata ia mengerjakannya tanpa membantah sedikitpun. Good job kakak Nai😘


Jatibening, menjelang jam 11 malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 16 November 2017

Mbulet

Assalammualaikum,


Tantangan hari 15 game level 1


Salah satu kebiasaan buruk Naira adalah tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu atau berlama2x untuk suatu alasan dan ritual yang tidak penting. Kami sering menyebutnya dalam bahasa Jawa sebagai mbulet alias muter2x ga jelas. 


Seperti sore ini. Saya membangunkannya dari tidur siang sejak menjelang setengah lima sore. Namun ia baru bangun menjelang pukul lima, itupun setelah misuh2x karena mungkin tidurnya dirasa masih kurang 🤦‍♀️. "Kak, sekarang udah jam 5. Kakak belum shalat Ashar. Mau shalat Ashar atau mandi dulu ?". "Aku mau shalat dulu", jawabnya. "Ya udah cepetan, karena waktunya udah mau habis", lanjut saya. "Iya", katanya lagi. 


Kemudian saya ke dapur membuat teh. Dan ketika saya lihat lagi ke kamar, masya allah, ini anak belum ngapa2x-in 😓. "Kak, mau shalat atau tidak ? Udah jam 5 lebih, waktu ashar udah mau habis", kata saya dengan setengah jengkel. "Iya ini mau shalat ma", jawab Naira. Dan selanjutnya bisa ditebak, drama mbulet makin menjadi. Mulai yang izin mau pipis, mau pake mukena saya, sampai mau wudhu pun dia bilang dulu ke saya 😬. Yang ada saya makin jengkel. "Kakak mau shalat ga sih ? Ini jam kan jalan terus kak. Sebentar lagi mau maghrib. Waktu shalat ashar udah habis. Atau ga usah shalat ashar aja ?", lanjut saya dengan berusaha menahan intonasi agar nada tidak meninggi. Duh geregetan pisan rasanya 🙄.


Akhirnya Naira shalat ashar pada jam setengah enam. Itu pun masih dengan gaya ketuwat ketuwet alias santai atawa lambat 😒. Masih gagal sepertinya komprod untuk drama mbulet ini. Emak masih kalah 1 set 😢


Jatibening, jam sebelas malam

Dian Meridha Giza

Rabu, 15 November 2017

Clash

Assalammualaikum,

Tantangan hari 14 game level 1

Hari ini ceritanya tentang si kecil Jasmine dan Zahra, anak ART saya. Mereka memang sepantaran dengan beda usia Zahra lebih tua 1 tahun. Setiap hari mereka kerap bermain bersama. Kadang akur, kadang ribut. Ya, Jasmine memang lebih agresif bila dibandingkan dengan Naira. Dalam keseharian pun seringkali Naira yang menangis bila bertengkar. 

Seperti kali ini. Mungkin karena faktor mengantuk, Jasmine agak kesal dengan Zahra, sehingga ia marah2x sepanjang waktu bermain. Zahra pun menangis karena dimarahi terus. Ia pergi ke ibunya yang sedang menyeterika dan meninggalkan Jasmine sendirian di ruang tengah. Jasmine pun mutung alias ngambek 😓.

Saya coba mengajak bicara sambil memeluknya. "Zahra kenapa dek ? Kok nangis ?". Dia hanya diam sambil merengut. "Berantem sama adek ?"."Abis Zahranya tu, adek kan sebel", jawabnya. "Ya udah minta maaf yuk", ajak saya. "Ga mau", katanya lagi. "Lhah kenapa ga mau ?, tanya saya. "Eh, klo berantem kan harus baikan lagi lho, minta maaf. Sama kayak adek sama kakak. Klo berantem terus minta maaf kan y", lanjut saya. Jasmine masih diam sambil pasang muka BT 🤦‍♀️. "Adek kan anak baik ya. Anak baik itu klo abis berantem sama temannya, terus minta maaf. Terus udah gitu main bareng lagi deh. Klo ga minta maaf nti ga punya temen. Ih ga enak deh". 

Selang beberapa menit setelah mematung, akhirnya Jasmine mau meminta maaf kepada Zahra, walaupun harus saya temani dan berulang kali saya bujuk kembali.


Jatibening, setengah sebelas malam
Dian Meridha Giza

Selasa, 14 November 2017

Kelengkeng

Assalammualaikum,

Tantangan hari 13 game level 1

Diantara sekian banyak keributan dan perebutan, hari ini adalah kelengkeng salah satunya. Menjelang maghrib setelah makan malam, Naira dan Jasmine menikmati buah kelengkeng yang hanya tinggal 4 butir saja. Sebetulnya tidak ada masalah karena bila dibagi dua pun masing2x anak mendapatkan jumlah yang sama. Naira sang kakak sudah mengerti dan menyetujui hal tersebut sewaktu saya jelaskan. Namun tidak dengan si adik, Jasmine.

Walaupun pada awalnya dia seakan mengerti, tapi setelah bagiannya habis, ia mengambil kelengkeng kakaknya yang masih bersisa 1 buah. Entah karena memang belum paham atau sekedar iseng saja anak ini. Yang pasti ini membuat Naira gusar terhadap adiknya. Gawat, dalam hati saya, akan ada huru hara menjelang azan maghrib ini 🤦‍♀️. Akhirnya saya mencoba bicara pada Jasmine.

"Adek, kelengkengnya tolong kembalikan ke kakak ya. Kan itu kelengkeng kakak. Tadi adek udah makan 2 kan ya ? Sama, punya kakak juga 2, tapi kakak baru dimakan 1. Kembalikan ya, besok kita beli lagi klo pas ke tip top", jelas saya. Namun Jasmine bersikeras tidak mau mengembalikannya. Bahkan ia memasukkan kelengkeng tersebut ke dalam mulutnya. Naira makin ribut dan hampir menangis. Saya pun juga gemas dibuatnya 😆. 

"Adek, tolong dong sayang, kelengkengnya jangan dimakan. Itu kan punya kakak. Ayo dong anak cantik, nti kita beli lagi kok klo belanja ke tip top", lanjut saya sambil harap2x cemas. Untungnlah setelah berulang kali dijelaskan, Jasmine mau memgembalikan kelengkeng tersebut kepada kakaknya. Fiuh, lega saya 😂


Jatibening, jam sepuluh malam
Dian Meridha Giza


Senin, 13 November 2017

Handukan

Assalammualaikum,

Tantangan hari 12 game level 1

Walaupun sudah bisa mandi sendiri, Naira kerap kali meminta tolong saya untuk mengelap tubuhnya dengan handuk (handukan) setelah mandi. Karena ia selalu mandi berdua dengan adiknya, acara ini sudah bisa dipastikan menjadi pemicu pertengkaran antara siapa yang duluan 🙄.

Begitu juga dengan pagi ini. Keduanya bersikeras minta dihanduki duluan tanpa ada yang mau mengalah. Akhirnya saya mengeluarkan peraturan sbb : "gini aja deh, daripada tiap hari rebutan terus, gimana klo gantian aja ? Hari ini adek, besok kakak. Besoknya lagi adek, terus kakak lagi, gitu. Setuju ga ?" kata saya. Awalnya mereka masih saling ngeyel, terutama Jasmine yang mulai mengeluarkan senjatanya, yaitu nangis 😬. Sementara Naira hanya bisa merengut kesal dengan wajah yang tak kalah memelas 😥.

"Gimana nih, ga ada yang mau ?" tanya saya lagi. "Emang ga capek klo tiap hari ribut terus ? Nti klo gantian enak deh, milih bajunya bisa lebih cepet". Dan akhirnya mereka setuju, malah sampai tidak ada yang mau duluan, melainkan saling menyuruh satu dan yang lain untuk duluan 🤦‍♀️



Jatibening, setengah sebelas malam
Dian Meridha Giza




Minggu, 12 November 2017

Mandi

Assalammualaikum,

Mencoba melakukan yang sunnah setelah yang wajib selesai alias tantangan hari 11 game level 1

Hari ini setelah anak2x latihan menari, kami pergi ke salah satu mall di bekasi untuk bermain, sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh kemarin, 11 Novermber.  Sampai di rumah pada pukul setengah delapan malam. Anak2x udah teler kecapean, begitu juga orang tuanya. 

Perlu waktu lama untuk saya menyuruh Jasmine untuk mandi. Pasti ada aja alasannya. Mulai dari tidur di kasur sampai minta di bukakan buah matoa.

Akhirnya saya memcoba untuk mengikuti maunya. "Adek, sini mama kupasin buahnya. Enak ya ?. kata saya. "Nti abis kupas 1 lagi, kita mandi ya." Anaknya mengangguk tanda setuju.

Ternyata setelah buahnya habis, si adek malah kembali  menghindar saat disuruh mandi 😬. 

Sepertinya batal ya mba 😓


Jatibening, jam 11 malam
Dian Meridha Giza


Sabtu, 11 November 2017

Side by Side

Assalammualaikum,

Tantangan hari 10 game level 1

Yeayyyy, finally touch down on 10th day 😀. Kali ini cerita berlangsung di mobil dalam perjalanan pulang dari suatu kunjungan. Posisi duduk kami adalah suami pegang kemudi, sementara saya dan anak2x duduk di kursi belakang. Saya berada di sebelah kiri, Naira di kanan, mengapit Jasmine. 

Ketika adiknya berdiri, Naira menempel pada saya minta dipeluk. Hal ini membuat adiknya tidak suka dan menyuruh sang kakak kembali ke tempatnya. Dan seperti biasa pertengkaran pun terjadi 😒. Naira menginginkan agar saya pindah posisi duduk di tengah, bertukar dengan adiknya. Tapi adiknya tidak mau, ributlah mereka. Kemudian saya ingat perkataan seorang teman kala kedua anaknya berebut perhatian sang ibu. Lalu saya coba praktekkan kepada si adik, yang cenderung lebih keras kepala 🙄.

"Adek, mama pindah ke tengah ya. Kakak juga pingin duduk samping mama". Tapi si adik tetap tidak mau, "ga boleh", katanya. "Lho anak mama kan ada 2, kakak sama adek. Kasihan kakak, dia juga pingin duduk di samping mama kayak adek", lanjut saya. Nti klo kakak nangis gimana ?". Boleh ya  ?". Setelah beberapa saat terdiam, Jasmine pun membolehkan saya untuk tukar tempat duduk dengannya. Dan suasana mobil pun tenang kembali  😊

Jatiebening, menjelang jam 11 malam.
Dian Meridha Giza

Jumat, 10 November 2017

Rebutan Piring

Assalammualaikum,

Tantangan hari 9 game level 1

Pagi hari ketika mau sarapan. Terjadi insiden rebutan piring antara Naira dengan adiknya, Jasmine. Yang diperebutkan adalah piring beling yang ada gambarnya. Biasanya Nairalah yang memakai piring tersebut. Namun kali ini si adik sudah melihat dan meminta lebih dahulu untuk memakainya, karena Naira masih berpakaian. 

Ribut ? Jelassss 😫. Ga ada yang mau ngalah, termasuk si adik yang wataknya memang lebih keras dibanding kakaknya. Coba dilerai tapi tidak berhasil. Dan diakhiri dengan menangisnya Naira sambil masuk ke dalam kamar 🤦‍♀️. Tak lama saya ikut masuk ke kamar dan mencoba membujuknya. 

"Kakak ngalah aja y, kan kemarin2x udah pake piring itu terus. Sekarang gantian adek yang pake, besok kakak lagi. Lagian tadi adek udah bilang duluan juga". "Ga mau, kan aku biasanya juga pake piring itu", jawabnya. Lhah priben ki, mamak bingung 😬. Apapun yang dibilang, Naira tetap saja bersikeras tidak mau mengalah. "Ya udah, nti siang coba mama cari, siapa tau piringnya masih ada lagi (padahal saya juga ga yakin apakah memang piring seperti itu masih ada lagi di lemari 😂). Tapi klo ga ada, besok juga makenya gantian ya, soalnya kan adek pingin pake juga", lanjut saya.

Dia mengangguk dan menghentikan tangisnya, lalu keluar kamar untuk sarapan. Lega saya 🤣.


Jatibening, jam setengah sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 09 November 2017

Pisang

Assalammualaikum,

Tantangan hari ke 8, game level 1

Kali ini subyeknya adalah anak ke-2 saya, Jasmine, yang baru berusia 3 tahun. Temanya adalah pisang.

Jadi ceritanya Jasmine itu suka sekali makan pisang. Dia selalu minta saya untuk mengupaskan buah tersebut untuknya, walaupun sebenarnya ia sudah bisa mengupasnya sendiri. Namun setiap kali saya minta ia untuk mengupas, ia selalu tidak mau, dan meminta saya untuk mengupaskannya. 

Begitu juga hari ini. Pagi hari sambil bermain ia minta diambilkan dan dikupaskan buah pisang. Kembali saya mencoba untuk menyuruhnya mengupas sendiri, tapi ia menolak as usual. Kebetulan ada anak ART saya yang sepantaran dengan usia yang lebih tua 1 tahun. Anak ini memang selalu ikut ibunya bekerja dan kerap saya beri makanan apa saja yang tengah dimakan oleh anak2x saya, termasuk pisang ini. Tiba2x terlintas ide supaya Jasmine mau mengupas pisangnya sendiri.

"Adek, ayo kupas pisangnya balapan sama Zahra ya. Nti siapa yang menang. Kan adek juga udah pinter",kata saya. Tanpa banyak alasan, Jasmine pun segera mengupas pisangnya. "Adek menang", katanya. "Yeay, gitu dong. Bisa kan", lanjut saya. Alhamdulilah 😄


Jatibening, jam setengah sepuluh malam
Dian Meridha Giza

Rabu, 08 November 2017

Kaos Kaki

Assalammualaikum,

Tantangan hari 7 game level 1

Masih di seputaran pagi hari, persiapan sekolah. Tiba2x dapat laporan dari papanya klo Naira ga mau pake kaos kaki ke sekolah. Alasannya adalah karena ada beberapa temannya yang tidak menggunakan kaos kaki saat ke sekolah.

O ya, sekolah Naira ini modelnya memang seperti sekolah alam. Tempat yang digunakan adalah rumah sang pemilik yang sekaligus sebagai kepala sekolah. Ruangan kelasnya terbuka, dan kegiatan belajar pun tidak melulu di dalam kelas.  Sekolah ini menganut sistem inklusi, dimana setiap anak dibiarkan untuk berkembang sesuai dengan tahapannya masing2x. Sekolah alam wanna be, begitu saya menyebutnya. Selama kegiatan di sekolah, siswa memang menggunakan sandal, jadi sepatu hanya dipakai saa berangkat dan pulang. Hal ini juga yang menyebabkan beberapa murid ada yang tidak menggunakan kaos kaki bahkan sepatu seperti di sekolah standar, termasuk teman kelasnya Naira.

Sambil membantunya gosok gigi, saya mencoba mengajaknya bicara. "Kakak kenapa ga mau pake kaos kaki ? Karena kemarin Namiya ga pake ya ?". Namiya adalah teman sekelasnya dan kebetulan pas kemarin saya jemput sempat lihat klo dia memang tidak pake kaos kaki. "Emang Namiya kenapa kok ampe ga pake kaos kaki ?", lanjut saya. "Namiya itu sepatunya masih kebesaran ma, jadi dia ga pake kaos kaki", jawabnya. "Kebesaran ? Justru klo sepatu kebesaran itu harus pake kaos kaki, jadi bisa pas dan ga longgar", jawab saya. "Sekolah itu harus rapi dan sopan lho kak. Kan sekolah tempat kakak belajar, jadi harus dihargai. Walaupun di sekolah terus ganti pake sandal, tapi klo berangkat dan pulang tetap harus rapi, pake sepatu dan kaos kaki. Biarin aja klo ada temennya yang ga pake kaos kaki. Kakak ga usah ikut2xan. Banyak juga anak2x sekolah yang ga bisa pake kaos kaki. Karena mereka ga punya uang untuk beli. Padahal mereka pingin banget tu bisa pake sepatu dan kaos kaki. Jadi nti tetep pake kaos kaki ya", tegas saya lagi. Tidak ada jawaban, tapi dia kembali memakai kaos kakinya. 

Alhamdulilah ga sampe perang urat, walau tetep aja mulut ini nyerocos kayak kereta api 😅.


Jatibening, setengah 11 malam
Dian Meridha Giza

Selasa, 07 November 2017

Tantrum

Assalammualaikum,

Tantangan hari 6 game level 1

Ga terasa ya udah hari ke 6 aja, hihihihihi. Episode kali ini adalah tantrum. Ya, walaupun beberapa hari lagi genap berusia 7 tahun, Naira masih saja suka tantrum. Terutama klo lagi kecapean dan kurang istirahat (baca : tidur). 

Seperti sore ini. Cerita dimulai saat bangun tidur sekitar pukul setengah lima sore. Setelah sebelumnya main dan bercanda dengan adiknya, yang berakhir dengan insiden si adik muntah, akhirnya kedua anak tersebut baru tidur siang sekitar jam setengah empat. Mungkin karena tidurnya dirasa belum cukup, Naira bangun dengan ngambek ga jelas (sepertinya juga pengaruh efek saya marahi karena bikin adiknya muntah 😓). Puncaknya adalah dia nangis minta digendong turun dari tempat tidur keluar kamar. Karena tidak saya turuti, dia ngamuk nangis teriak2x sambil nendang2x di kasur. Duh nyebelin tingkat dewalah pokoknya. Klo mau nurutin hawa nafsu, pingin rasanya saya ikut marah dan berteriak seperti yang biasanya sering saya lakukan. Tapi saya mencoba untuk tidak terpancing dan hanya duduk di sisi tempat tidur sambil sesekali bermain dengan adiknya (hal ini memang sempat beberapa kali saya lakukan jika anak2x saya mulai tantrum). Sesekali saya timpali tangisannya dengan pertanyaan yang saya sendiri pun sudah tau tidak berguna dalam situasi seperti ini, "kakak mau apa sih, gendong ? Udah besarlah, masa minta gendong, berat kali. Boleh gendong tapi nenen dulu ya." Yang ada dia tambah ngamuk 😂 

Selang setengah jam amukannya mulai reda dan minta ditemani keluar kamar. Setelah benar2x reda, saya sodorkan minum juga kue yang sempat saya beli siang tadi. Sambil bertanya, "udahan kak nangisnya, capek ?". Dia cuma senyum2x aja. Yah bocah begitu amat yak 🙄. 

Malamnya sempat saya tanya lagi kenapa tadi kok nangis dan ngamuk ampe kayak begitu. Jawabannya tetap sama, pingin minta gendong katanya. Ampun dj nduk 😆


Jatinening, jam 11 malam
Dian Meridha Giza

Senin, 06 November 2017

Table Manner

Assalammualaikum,

Tantangan hari ke 5 di game level 1

Kali ini mengenai adab makan. Anak2x saya memang sedikit ribet klo mengenai masalah makan. Apa hal ? Ya, mereka jarang sekali bisa duduk diam di kursi menghabiskan makanannya. Yang ada adalah petakilan kesana kemari, sambil bermain. Terutama Naira. Sepertinya anak itu memang tidak bisa diam, pun saat makan. Berulang kali saya kasih tau, nasihat sampai omelan, jeranya hanya sesaat. Selanjutnya ? Wallahu alam 😓

Seperti sore ini. Tumben dia sudah minta makan pada pukul setengah lima pada saat saya menyuruhnya mandi (semoga ini bukan pengalihan dari suruhan untuk mandi 😬). As usual, dia makan sambil bermain kesana kemari, bercanda dengan adiknya, yang juga sedang makan. Saya pun kesal dibuatnya. Teriakan untuk makan sambil duduk tidak digubrisnya. Akhirnya saya tanya,"kakak klo di sekolah makan juga sambil lari2x ya ? Perasaan kemarin ada yang bilang klo makan itu harus duduk. Tidak boleh jalan2x apalagi sambil main dan lari2x". Dia tidak menjawab, tapi segera kembali ke tempat duduk dan menghadapi piringnya. Sayangnya itu hanya sesaat, karena tak lama kemudian dia pun turun dari kursi dan kembali bermain sambil makan dengan adiknya. 

Dan saya pun menghela napas 😓

Minggu, 05 November 2017

Getting Shower

Assalammualaikum

Tantangan hari 4 game level 1.

Adalah kami yang sedang mengikuti kegiatan camping dari sebuah komunitas mobil yang diikuti oleh suami. Rencana awal berangkat pada jumat malam (3 nov) diundur menjadi sabtu siang (4 nov). Hal ini dikarenakan Naira ada acara di sekolah, yaitu open day music, yang teramat sayang klo harus dilewatkan, karena selama 1 minggu ini dia dan teman2xnya sudah berlatih terus. Jadilah suami berangkat jumat sore, sementara saya dan anak2x menyusul pada sabtu siang.

Kejadiannya pada saat mandi pagi, minggu (5 nov). Naira yang sudah bisa dan selalu mandi sendiri minta dimandikan bareng adiknya. Menurut pengamatan saya, ini mungkin karena keadaan kamar mandi yang tidak senyaman di rumah dan kondisi cuaca + air yang sangat dingin. Namun saya bersikeras agar ia mau mandi sendiri, bersebelahan dengan saya yang memandikan adiknya. Tapi ia tetap tidak mau juga. Jujur saya kesal dan akhirnya menuruti keinginannya dimandikan dengan mulut yang tidak hentinya mengomel. 

Kemudian saya ingat salah satu poin komprod dengan merealisasikan pengalaman dibanding menasihati (sambil ngomel tentunya 😒). "Dulu mama waktu camping juga mandi sendiri lho kak. Mana kamar mandinya jauh lagi. Kamar mandinya besar, kayak kamar mandi ini yang digabung jadi 1 tapi ga ada pintu pemisahnya. Sekarang kakak enak, diajak camping sama papa mama, jadi nti klo camping sama sekolah dan teman2x udah ga kaget. Dulu mama mana pernah diajak camping sama akung dan yangti. Jadi waktu camping agak2x bingung gitu. Nanti klo camping lagi, kakak mandi sendiri y, kan mama temenin dari luar". Ia pun mengangguk dan mengiyakan.


Jatibening, menuju jam 11 malam
Dian Meridha Giza

Sabtu, 04 November 2017

Get Ready

Assalammualaikum

Tantangan hari ke 3 dimulai pada pagi hari. Hari ini kakak Naira ada acara open day music di sekolah. Kebetulan sejak kemarin sore suami tidak ada, pergi camping. Ini artinya saya yang harus menyiapkan anak2x plus masak untuk sarapan dan makan siang. Naira termasuk susah untuk bangun pagi. Tiap hari suami perlu waktu paling tidak setengah jam untuk membangunkannya tiap hari. Sejak malam hari saya sudah sounding bahwa besok kita harus bangun pagi dan kakak Na harus bantu mama untuk mempersiapkan dirinya sendiri, terutama karena papa yang biasa membantu mama tidak ada. 

Pukul enam pagi anak2x mulai pada bangun, walaupun kemudian mereka masih leyeh2x di kasur, at least berkurang 1 pekerjaan saya, yaitu membangunkan mereka, terutama Naira yang memang lebih susah dibangunkan dibandingkan adiknya. Sambil masak di dapur, saya berteriak menyuruh mereka mandi dan sarapan. Tapi tidak ada yang bergeming, terutama Naira. 2-3 kali tetap saja belum ada yang keluar kamar. Akhirnya saya masuk ke kamar dan mendekati Naira.

"Kakak hari ini ada open day music kan y ? Kakak mau ikut ga ?". "Mau", jawabnya. "Kata miss Sri (gurunya), kakak harus sampai di sekolah jam 8. Sekarang udah jam setengah tujuh. Kakak mau mandi atau sarapan dulu ?", lanjut saya. "Ehm, sarapan", katanya. "Ya udah, sekarang ayo keluar kamar. Sarapannya roti yang mama bikin kemarin". Akhirnya dia keluar kamar dan mengambil sepotong roti manis. Saya kembali ke dapur melanjutkan memasak. 

Ternyata eh ternyata mereka makan roti sambil bermain. Kembali saya berteriak dari dapur agar mereka makan sambil duduk dan menyegerakan untuk menghabiskannya. Teriakan saya bagaikan angin lalu saja bagi mereka. Berulang kali Naira cuma menjawab iya, tanpa ada perubahan. Mereka tetap bermain, bahkan sang roti malah digeletakkan di meja makan 🤦‍♀️. Kembali saya dekati Naira dan bertanya, "kakak jadi ikut open day ga ?". "Iya", jawabnya. "Sekarang udah jam tujuh lewat. Klo kakak main terus nti akan terlambat ke sekolahnya. Apa kita ga usah ke sekolah dan main aja di rumah ?. "Mau ke sekolah ma", jawabnya. "Klo mau ke sekolah, habiskan rotinya", lanjut saya. "Iya", katanya. Lalu mengambil roti di meja makan.

Begitu berulang2x, saya meleng sedikit, mereka brrmain lagi. Dan saya harus mendekatinya untuk berbicara, dibanding sekedar berteriak saja.

Untungnya selesai mandi, acara mbulet tidak berkelanjutan. 

Jalan tol jakarta cikampek, jam 3 sore
Dian Meridha Giza

Jumat, 03 November 2017

Tahu dan Tempe

Assalammualaikum,

Masuk tantangan hari 2 dengan objek masih si kakak alias Naira.

Kejadian di meja makan waktu sarapan. Kebetulan menu sarapan tadi pagi adalah nasi plus tahu tempe sisa semalam yang masing2x hanya tinggal 1 buah. Wah repot nih, kata saya dalam hati. Klo dihidangkan di meja dan anak2x disuruh memilih pasti akan timbul keributan. Tapi klo langsung dipilihkan dengan meletakkannya di piring masing2x, udah hampir bisa dipastikan 11 12 alias sama aja. Akhirnya saya memilih opsi kedua, dengan pertimbangan Naira lebih suka tempe daripada tahu.

Benar saja, Naira protes kenapa dia dikasih tempe, sementara adiknya dikasih tahu (walaupun tempe adalah kesukaannya). Malas rasanya berdebat pagi2x, apalagi untuk urusan sepele kayak gini (dari sudut pandang saya sebagai orang dewasa lho, sementara untuk anak2x, udah bisa dipastikan that this is such a big thing 😆). Akhirnya saya bilang (sambil pasang muka sok bingung 😉), "tempe itu bukannya kesukaan kakak ya. Perasaan semalam juga kakak minta tempe goreng untuk bekal sekolah nanti. Atau mungkin mama yang salah denger mungkin ? Ya sudah klo gitu kita tuker aja ya, tempenya untuk adik, dan kakak makan tahu". "Ga usah, aku tempe aja", jawabnya sambil masih cemberut. "Ga apa2x kok klo mau dituker. Kan tahu juga sama2x enak, untuk mama sih. Klo kakak kan lebih enak tempe ya", lamjut saya lagi. Dia cuma senyum2x doang sambil makan sarapannya 🤣.

O ya, untuk tantangan yang kemarin sepertinya cukup berhasil, karena Naira memang tidak menangis dan ngamuk mencari saya seperti biasanya. Hanya sedikit terbangun minta diselimuti lalu tidur lagi. Alhamdulilah ☺️


Jatibening, jam 10 malam
Dian Meridha Giza

Kamis, 02 November 2017

My Big Girl Baby

Assalammualaikum, Setelah libur hampir 3 bulan lamanya, kuliah online IIP pun dimulai kembali. Alhamdulilah lulus matrikulasi dan naik ke kelas bunda sayang. Sebetulnya agak ragu juga apakah saya bisa konsisten untuk mengerjakan tugasnya, yang sekarang dinamakan sebagai tantangan, karena harus dikumpulkan tiap hari minimal selama 10 hari dari 15 hari yang diberikan. Jiper ? Of course. Tapi sudah sampai sejauh ini apakah mau mundur ? Rasanya sayang pake bingitttsss deh 😂. Ya sudah akhirnya diputuskan untuk maju terus, mudah2x-an bisa konsisten ngejalaninnya. Untuk game level 1 ini materinya adalah komunikasi produktif. Kepada siapa ? Bisa pasangan alias suami ataupun anak. Keliatannya simple ya tapiiiii pada prakteknya emang masih suka belibet alias ga karuan sehingga ga tercapai tujuan yang diinginkan/dimaksud dan berakhir dengan baper 🤣. Di tantangan day 1 saya memakai anak pertama saya sebagai target. Namanya Naira, yang sering kita panggil Na atau kakak. Tgl 11 ini insya allah akan genap 7 tahun dan sekarang sudah duduk di kelas 1 SD. What's the problem ? Here's then Sejak kena mumps/gondongan sekitar 1,5 bulan lalu, Na memang agak bertambah kolokan/manjanya, terutama sama saya, ibunya. Setiap tidur maunya dikeloni/dipeluk terus, which is harus bergantian dengan adiknya. Sekitar sebulanan ini, dia sering sekali terbangun pada tengah malam dan akan mencari saya untuk minta dikeloni kembali. Adapun keadaan kamar kami adalah kami masih tidur berempat dalam 1 kamar (saya, suami dan kedua anak kami). Anak2x tidur di tempat tidur, sementara saya dan suami tidur di bawah menggunakan kasur tambahan. Masalahnya beberapa bulan ini, rintitis alergi saya makin menjadi. Saya yang biasanya kuat/tahan dengan udara dingin, sekarang rasanya ringkih banget. Klo tengah malam terbangun, mesti jadi batuk, pilek ataupun hidung mampet. Padahal posisi AC ada di atas tempat tidur, jadi saya memang tidak bisa mengeloni Na ampe pagi, karena tengah malam bila terbangun saya akan pindah ke kasur bawah dengan maksud supaya Na juga ga tergantung kelonan terus karena memang sudah besar (modus aja sih kayaknya ini supaya bisa kelonan sama bapake 😝). Seminggu ini malah dia ampe nangis2x klo terbangun tengah malam mencari saya minta dikeloni lagi. Klo udah gitu si adik pun ikut terbangun dan minta hal yang sama, nah seru deh tu, yang ada emak jadi pusing pala barbie 🤣. And that's why i give my big girl baby as the title, abis kayak balik jadi bayi lagi 😊 Sebetulnya dari kemarin2x saya udah observasi dan coba tanyakan, kenapa kakak kok tiap malam mesti nangis cari mama ? Dia cuma senyum2x sambil pura2x sibuk main dan ga denger saya ngomong 😫. Sehubungan dengan adanya tantangan ini, saya coba cari celah lagi untuk ngomong ke anak ini. Dengan intonasi serendah mungkin di saat dia tidak terlalu fokus dengan mainannya, saya coba tanya lagi. "Kak, kok klo malam mesti nangis cari mama ? Kan udah mama keloni. Mama emang ga bisa lama2x karena sekarang mama ga kuat dingin. Nti yang ada malah hidung mama jadi mampet terus batuk dan bersin2x. Kakak kan juga mesti tau klo mama keloni (anak ini emang suka kebangun klo saya mau ngeloni dia). Emang kakak maunya gimana ?". Sambil senyum2x dia jawab, "aku maunya dikasih tau klo mama ngeloni aku". "Lha bukannya kakak udah tau ?", timpal saya. "Iya aku sering lupa", katanya lagi. "Ya udah nti mama kasih tau klo mama mau ngeloni tapi kakak janji ga boleh nangis y ?"sambil saya sodorin kelingking tanda persetujuan. "Iya", jawabnya sambil ngaitkan kelingking tanda setuju. "Janji lho ya" teges saya lagi. "Ho-oh", katanya. O ya, dari hasil observasi sepertinya ada faktor kecapean juga karena memang anak2x saya klo kurang istirahat, saat tidur malam mesti akan ngamuk tanpa sadar. Memang jadwal sekolah lumayan padat, masuk setengah delapan pagi, keluar jam 14:10. Itupun sudah sekolah yang agak santai dari cara belajarnya, sekolah alam wanna be klo saya bilang. Tapi tetep aja sih, dengan rentang waktu segitu agak memaksakan untuk kelas sd, apalagi baru kelas 1. Untungnya lokasi dekat jadi perjalanan hanya makan waktu 10-15 menit dengan kendaraan roda 4. Sampai rumah juga susah untuk tidur siang, maunya main saja. Akhirnya saya biarkan dia main, dengan jadwal makan yang harusnya setelah shalat maghrib dimajukan menjadi setengah jam sebelum maghrib. Sehingga setelah shalat maghrib dan hafalan surat pendek dan doa sehari2x langsung menyiapkan buku dan baju untuk besok lalu persiapan tidur (cuci kaki, ganti baju dan gosok gigi). Tapi namanya anak2x, yang ada jadwal suka meleset, apalagi anak2x saya terkenal suka mbulet alias ngalor ngidul klo mengerjakan sesuatu, jadinya ga kelar2x. Jadwal jam 8 udah harus tidur, sering meleset jadi jam 9 😓 Sebetulnya saya tanda tanya juga, gimana ngasih taunya, lha wong udah tidur juga. Klo pas kebangun, lha klo engga 😂. Ya wislah saya tetap akan bisikin dia klo ini mama lagi ngeloni kakak. Kira2x untuk hasilnya gimana ya ? Saya juga belum tau, mesti nunggu besok kayaknya, hehehehe Untuk family forum, biasanya kita suka ngobrol bareng komplit itu hari sabtu atau minggu karena suami pulang kerja seringnya malam saat anak2x udah tidur. Udah ah segini dulu, perasaan kok jadi ngalor ngidul ga karuan, peace ya mba fasil Fitroh Handayani ✌️☺️ Jatibening, 45 menit menuju jam 12 malam Dian Meridha Giza

My Big Girl Baby

Assalammualaikum,

Setelah libur hampir 3 bulan lamanya, kuliah online IIP pun dimulai kembali. Alhamdulilah lulus matrikulasi dan naik ke kelas bunda sayang. Sebetulnya agak ragu juga apakah saya bisa konsisten untuk mengerjakan tugasnya, yang sekarang dinamakan sebagai tantangan, karena harus dikumpulkan tiap hari minimal selama 10 hari dari 15 hari yang diberikan. Jiper ? Of course. Tapi sudah sampai sejauh ini apakah mau mundur ? Rasanya sayang pake bingitttsss deh 😂. Ya sudah akhirnya diputuskan untuk maju terus, mudah2x-an bisa konsisten ngejalaninnya.

Untuk game level 1 ini materinya adalah komunikasi produktif. Kepada siapa ? Bisa pasangan alias suami ataupun anak. Keliatannya simple ya tapiiiii pada prakteknya emang masih suka belibet alias ga karuan sehingga ga tercapai tujuan yang diinginkan/dimaksud dan berakhir dengan baper 🤣.

Di tantangan day 1 saya memakai anak pertama saya sebagai target. Namanya Naira, yang sering kita panggil Na atau kakak. Tgl 11 ini insya allah akan genap 7 tahun dan sekarang sudah duduk di kelas 1 SD. 

What's the problem ?

Here's then

Sejak kena mumps/gondongan sekitar 1,5 bulan lalu, Na memang agak bertambah kolokan/manjanya, terutama sama saya, ibunya. Setiap tidur maunya dikeloni/dipeluk terus, which is harus bergantian dengan adiknya. Sekitar sebulanan ini, dia sering sekali terbangun pada tengah malam dan akan mencari saya untuk minta dikeloni kembali. Adapun keadaan kamar kami adalah kami masih tidur berempat dalam 1 kamar (saya, suami dan kedua anak kami). Anak2x tidur di tempat tidur, sementara saya dan suami tidur di bawah menggunakan kasur tambahan. Masalahnya beberapa bulan ini, rintitis alergi saya makin menjadi. Saya yang biasanya kuat/tahan dengan udara dingin, sekarang rasanya ringkih banget. Klo tengah malam terbangun, mesti jadi batuk, pilek ataupun hidung mampet. Padahal posisi AC ada di atas tempat tidur, jadi saya memang tidak bisa mengeloni Na ampe pagi, karena tengah malam bila terbangun saya akan pindah ke kasur bawah dengan maksud supaya Na juga ga tergantung kelonan terus karena memang sudah besar (modus aja sih kayaknya ini supaya bisa kelonan sama bapake 😝). Seminggu ini malah dia ampe nangis2x klo terbangun tengah malam mencari saya minta dikeloni lagi. Klo udah gitu si adik pun ikut terbangun dan minta hal yang sama, nah seru deh tu, yang ada emak jadi pusing pala barbie 🤣. And that's why i give  my big girl baby as the title, abis kayak balik jadi bayi lagi 😊

Sebetulnya dari kemarin2x saya udah observasi dan coba tanyakan, kenapa kakak kok tiap malam mesti nangis cari mama ? Dia cuma senyum2x sambil pura2x sibuk main dan ga denger saya ngomong 😫. Sehubungan dengan adanya tantangan ini, saya coba cari celah lagi untuk ngomong ke anak ini. Dengan intonasi serendah mungkin di saat dia tidak terlalu fokus dengan mainannya, saya coba tanya lagi.
"Kak, kok klo malam mesti nangis cari mama ? Kan udah mama keloni. Mama emang ga bisa lama2x karena sekarang mama ga kuat dingin. Nti yang ada malah hidung mama jadi mampet terus batuk dan bersin2x. Kakak kan juga mesti tau klo mama keloni (anak ini emang suka kebangun klo saya mau ngeloni dia). Emang kakak maunya gimana ?". Sambil senyum2x dia jawab, "aku maunya dikasih tau klo mama ngeloni aku". "Lha bukannya kakak udah tau ?", timpal saya. "Iya aku sering lupa", katanya lagi. "Ya udah nti mama kasih tau klo mama mau ngeloni tapi kakak janji ga boleh nangis y ?"sambil saya sodorin kelingking tanda persetujuan. "Iya", jawabnya sambil ngaitkan kelingking tanda setuju. "Janji lho ya" teges saya lagi. "Ho-oh", katanya.

O ya, dari hasil observasi sepertinya ada faktor kecapean juga karena memang anak2x saya klo kurang istirahat, saat tidur malam mesti akan ngamuk tanpa sadar. Memang jadwal sekolah lumayan padat, masuk setengah delapan pagi, keluar jam 14:10. Itupun sudah sekolah yang agak santai dari cara belajarnya, sekolah alam wanna be klo saya bilang. Tapi tetep aja sih, dengan rentang waktu segitu agak memaksakan untuk kelas sd, apalagi baru kelas 1. Untungnya lokasi dekat jadi perjalanan hanya makan waktu 10-15 menit dengan kendaraan roda 4. Sampai rumah juga susah untuk tidur siang, maunya main saja. Akhirnya saya biarkan dia main, dengan jadwal makan yang harusnya setelah shalat maghrib dimajukan menjadi setengah jam sebelum maghrib. Sehingga setelah shalat maghrib dan hafalan surat pendek dan doa sehari2x langsung menyiapkan buku dan baju untuk besok lalu persiapan tidur (cuci kaki, ganti baju dan gosok gigi). Tapi namanya anak2x, yang ada jadwal suka meleset, apalagi anak2x saya terkenal suka mbulet alias ngalor ngidul klo mengerjakan sesuatu, jadinya ga kelar2x. Jadwal jam 8 udah harus tidur, sering meleset jadi jam 9 😓

Sebetulnya saya tanda tanya juga, gimana ngasih taunya, lha wong udah tidur juga. Klo pas kebangun, lha klo engga 😂. Ya wislah saya tetap akan bisikin dia klo ini mama lagi ngeloni kakak. 

Kira2x untuk hasilnya gimana ya ? Saya juga belum tau, mesti nunggu besok kayaknya, hehehehe

Untuk family forum, biasanya kita suka ngobrol bareng komplit itu hari sabtu atau minggu karena suami pulang kerja seringnya malam saat anak2x udah tidur.

Udah ah segini dulu, perasaan kok jadi ngalor ngidul ga karuan, peace ya mba fasil Fitroh Handayani ✌️☺️


Jatibening, 45 menit menuju jam 12 malam
Dian Meridha Giza

Sabtu, 29 Juli 2017

NHW 9

Assalammualaikum, Dan akhirnya sampailah saya pda NHW 9 atau NHW final dari kelas matrikulasi ini. Jeng jeng jeng, ga nyangka juga klo saya akhirnya bisa nyampe disini, mengingat NHw yang tertatih2x dan hampir selalu last minute ☺️. Dalam NHW ini kita diminta untuk belajar menjadi agen perubahan, khususnya di dalam masyarakat dengan memakai rumus : Passion + Emphaty = Social Venture Sungguh suatu istilah yang baru bagi saya. Apa sih social venture itu ? Social venture adalah suatu usaha yang didirikan okeh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sementara social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial dan sekitarnya dengan mengunakan kemampuan enterprenurnya. Sehingga yang dimaksud disini adalah supaya kita, kaum ibu, bisa membuat perubahan di masyarakat yang diawali dari rasa emphaty, lalu membuat usaha yang berkelanjutan yang juga diawali dengan menemukan apa yang menjadi passion kita. Sebelumnya saya kembalu meminta maaf (lagi) dl sama mba Maria dan mba Arina, selaku korming 9, karena lagi2x saya mengalami kesulitan untuk membuat NHw ini dalam bentuk bagan (hanya mengerjakan dari hp) sehingga akan saya buat dalam bentuk narasi saja. Seperti telah diutarakan pda NHW sebelumnya tentang aktivitas saya di ranah bisa dan suka, saya memilih memasak (Minat, hobi ketertarikan).. Awalnya adalah karena ingin menyediakan makanan sehat untuk keluarga kecil saya, khususnya anak2x. Termasuk dalam hal ini adalah membuat stok makanan olahan beku atau frozen food, dalam hal ini nuget. Kemudian saya melihat bahwa makin kesini trend frozen food sudah makin merebak, terutama untuk anak usia sekolah. Menu ini memang bisa dibilang menjadi andalan banget untuk menyiasati keribetan dapur di pagi hari dalam menyiapkan sarapan/bekal. Pun ketika anak saya yang paling besar memasuki masa sekolah. Ia kerap bercerita klo teman2xnya sering membawa bekal nasi + nuget/sosis. Memang di pasaran banyak sekali beredar frozen food yang beraneka ragam dengan rasa dan bentuk yang lucu2x, dari mulai nuget, bakso, sosis, siomay dsb. Namun bila kita cermati, kebanyakan (bahkan hampir semua) produk tersebut mengandung zat tambahan, terutama penguat rasa dan pengawet yang kurang baik untuk kesehatan tubuh, khususnya anak2x (Isu sosial). Karena memang target pasar produk teraebut adalah anak usia sekolah (terutama) yang masih membawa bekal. Maka dari itu pingin banget rasanya saya untuk menularkan kebiasaan makan makanan sehat yang minim penguat rasa dan pengawet, terutama frozen food olahan, yang sangat digemari oleh masyarakat, khususnya anak2x (Ide sosial). Selain anak2x (Masyarakat), sasaran yang paling penting adalah ibu2x selaku pembuat keputusan dalam pemilihan makanan dan bahan makanan bagi keluarganya (Masyarakat). Adapun alasan lain pribadi adalah untuk memanfaatkan freezer ex ASI anak2x juga sih, he3x. Tapi jujur, saya masih belum PD alias percaya diri untuk memulainya. Masih banyak keraguan yang menjadi pemberat langkah ini berjalan. Untuk itu saya akan dan harus membenahi lagi serta mengupdate semua ilmunya. Mulai dari teknik memasak yang efisien (Hard skill), sampai ke sistem penjualan dan pemasarannya atau komunikasi dan net working (Soft skill). Semoga someday mimpi ini bisa segera terwujud. Terima kasih untuk IIP yang telah mengingatkan saya untuk dapat berbuat “sesuatu” dalam lingkup masyarakat, doain ya, amin. Jatibening, 29 July 2017 -mg-

Sabtu, 22 Juli 2017

Nhw 8

Assalammualaikum, Alhamdulilah sampai di NHW 8 alias 2 NHW menuju akhir kelas matrikulasi. Ibarat orang mau lahiran, NHW ini adalah pembukaaan 8, kurang dikit lagi untuk nyampe ke bukaan 10 sebelum boleh mengeden. He3x, Jaka Sembung bawa golok alias ga nyambung kayaknya 😜. Dalam NHW kali ini kita diminta untuk lebih dapat menggali dan menerapkan misi hidup yang telah kita temukan demi untuk menunjang produktivitas keluarga. Awalnya agak bingung juga saya, karena semua kayak ga nyambung. Pertama untuk misi/peran hidup yang diambil. Disini saya memilih untuk mendampingi anak2x dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan fitrahnya, hingga mereka busa mandiri, meraih masa depannya dan membawa manfaat bagi orang lain (at least menjadi role model positif bagi generasinya). Sementara hasil temu bakat saya adalah commander, distributor, restorer, strategic dan treasury. Dan untuk aktivitas yang saya bisa dan sukai adalah memasak. Nah kan, bingung deh 🤣. Alhamdulilah setelah diskusi sama mba Maya, selaku korming minggu ini), insya allah mulai kelihatan titik terang/benang merahnya. Jujur, walaupun peran hidup yang saya ambil adalah mendampingi anak2x, kesabaran saya dalam menghadapi mereka agak kurang 😅. Masih perlu lebih banyak lagi untuk belajar dan berlatih, terutama dari temen2x di kelas matrikulasi ini. Adapun benang merah yang bisa saya tarik dari semua ini adalah salah satu usaha saya dalam mendampingi mereka (anak2x) yaitu melalui salah satu faktor pendukungnya, yaitu makanan. Yang membuat saya mau tidak mau terpaksa harus bisa memasak dan akhirnya menyenangi kegiatan ini adalah saya harus bisa menyediakan makanan yang sehat dan bergizi untuk keluarga saya, terutama anak2x, yang sedang dalam masa pertumbuhan dan makin dikelilingi oleh beraneka jenis makanan, baik sehat maupun tidak sehat. Sehat dan bergizi menurut versi saya juga tidak aneh2x kok, yang penting untuk bahan diusahakan alami (sayuran dibeli tiap 1-3 hari sekali), no MSG, meminimalisir penggunaan zat aditif dan makanan olahan/kalengan, membuat sendiri untuk produk2x olahan seperti nuget, bola2x ayam, menggunakan beraneka jenis bahan makanan supaya anak tidak picky eater dan memenuhi zat gizi yang sesuai dengan standar (karbohidrat, protein, vitamin dan lemak atau yang sering dikenal sebagai menu 4 bintang). Sedangkan untuk hubungannya dengan temu bakat, saya mengambil commander. Diantaranya dengan selalu memonitor kegiatan mereka, terutama si kakak yang tahun ini masuk sd (dimana tantangan peer grup akan mulai muncul), memberi arahan/masukan2x positif, melatih mereka untuk bisa mandiri sedikit demi sedikit. Balik ke nhw, kira2x jadinya seperti ini : Be : Saya ingin menjadi ibu yang dapat mendampingi anak2xnya dalam menjalani kehidupannya hingga mereka bisa mandiri dan meraih masa depannya, dengan selalu memantau kegiatan mereka, memberi arahan, melatih mandiri untuk menghadapi masa depan dan mendukung pertumbuhannya melalui faktor makanan Do : Membuat makanan sehat dan bergizi demi menunjang aktivitas dan pertumbuhan mereka Have : Memiliki usaha homemade frozen food sehingga bisa ikut menularkan kebiasaan memasak makanan sehat yang bebas zat tambahan/pengawet kepada masyarakat, khususnya anak2x Adapun untuk 3 aspek dimensi waktunya adalah sbb : Yang ingin dicapai dalam kurun waktu kehidupan : 1.Menjadikan anak2x sholehah, mandiri dan siap menghadapi tantangan hidup serta meraih masa depannya 2.Menjadi individu yang bermanfaat bagi orang lain Yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan (strategic plan) : 1.Menguasai atau paling tidak lebih mendalami ilmu parenting dan mempraktekkannya kepada anak 2.Menjadi sahabat anak sehingga anak bisa terbuka dan nyaman bercerita apa saja kepada saya selaku ibunya Yang ingin dicapai dalam kurun waktu 1 tahun (new year resolution) : 1.Memanage diri menjadi lebih baik, terutama yang berhubungan dengan kontrol emosi, manajemen waktu 2.Lebih dekat dengan anak dalam artian lebih bisa memahami perasaan dan segala polah tingkah mereka sebagai bagian dari proses belajarnya Walaupun terlihat sederhana, tapi bagi saya semua ini sangat amatlah tidak mudah. Perlu tekad dan usaha yang keras agar dapat terwujud dan bukan sekedar angan belaka. Insya allah semoga bisa terwujud, amin

Sabtu, 15 Juli 2017

Nhw 7

Assalammualaikum, Tanpa terasa nhw udah masuk episode 7. Kali ini dengan episode tahapan menjadi bunda produktif. Disini kita lebih diajarkan lagi untuk membuat skala prioritas dengan lebih spesifik. Alat bantu yang digunakan adalah talent mapping yang ditemukan oleh abah Rama. Tools ini berfungsi untuk mengetahui tipe kekuatan diri kita sehingga diharapkan bahwa masing2x pribadi dapat lebih mengenali potensi diri dan menemukan peran spesifiknya dalam menjalani kehidupan ini. Dari hasil tes yang didapat, kekuatan saya ada di commander, distributor, restrorer, strategic dan treasury. Boleh dibilang sebagai orang dibelakang meja, karena saya memang kerap kali dalam melakukan sesuatu selalu mencari cara/jalan yang paling baik/menguntungkan (terutama yang ada hubungannya dengan uang/cost), serta menyukai kerapihan dan keteraturan. Adapun untuk kuadran aktifitasnya adalah sbb : Kuadran 1 - sesuatu yang saya suka dan saya bisa : Memasak : awalnya terpaksa karena dengan alasan menikah dan punya anak, tapi lama2x menemukan keasyikan sendiri, walaupun untuk hasilnya belum bisa atau bahkan jauh dari sempurna. Apalagi setelah punya anak, pinginnya bikin segala macam dan akan sangat senang klo ternyata mereka menyukainya Senam aerobic : mungkin karena pada dasarnya saya senang menari, jadi seperti ada penyaluran bakat terpendam kala melakukannya Kuadran 2 - sesuatu yang saya suka tapi tidak saya bisa : Berenang : sebetulnya belajar sudah sejak dari jaman sekolah dulu, tapi entah mengapa sampai sekarang tak kunjung mahir jua. Mungkin karena saya kurang sungguh2x dalam belajar sehingga hasilnya juga kurang maximal Kuadran 3 - sesuatu yang saya bisa tapi tidak saya suka : Bebenah rumah alias mengerjakan pekerjaan rumah tangga : mulai dari menyapu, mengepel, bersih2x, cuci baju, nyetrika. Kenapa ? Karena saya perlu waktu lebih lama untuk mengerjakan hal2x tersebut sehingga terkesan buang2x waktu. Padahal klo pas tidak ada ART, mau tidak mau kan hal2x tersebut harus dikerjakan ya, he3x Kuadran 4 - sesuatu yang saya tidak suka dan saya todak bisa : Menggambar : dari jaman sekolah sampai sekarang gambar yang saya bisa cuma gunung dan rumah sederhana banget, itu pun udah BT dan mati gaya klo disuruh ngegambar, ga kreatif saya akui tapi alhamdulilah sepertinya anak saya yang pertama malah senang menggambar Mohon maaf untuk mba Maria dan semua tim fasil, saya masih belum bisa menemukan cara untuk melampirkan hasil tesnya

Sabtu, 08 Juli 2017

Nhw 6

     Assalammualaikum,

     Setelah libur hampir 2 minggu, balik lagi ketemu sama nhw. Hawa liburan yang masih kerasa bikin otak dan tangan berat banget untuk mikir dan nulis lagi -alasan doang kayaknya sih 😝-. Kali ini temanya adalah belajar menjadi manajer keluarga handal, untuk mempermudah kita menemukan peran hidup dan mendampingi anak2x menemukan peran hidupnya. Ini sesuai banget dengan kondisi keseharian saya yang sepertinya selalu terjebak dengan rutinitas yabg tidak ada habisnya, sehingga kerap membuat saya bludrek atau merasa jenuh.

     Disini kita diminta untuk menuliskan 3 aktivitas yang paling penting dan 3 aktivitas yang paling tidak penting, lalu mengumpulkannya menjadi 1 kandang waktu dengan memberikan cut off yang harus dipatuhi. Dengan kata lain, kita sedang belajar untuk menentukan skala prioritas dan mendisiplinkan diri sendiri. Kelihatannya sih memang sederhana, tapi bagaimanakah kenyataannya ?

     Let’s see then……

3 aktivitas penting :
1. Ibadah ; mulai dari shalat wajib, shalat sunnah, shalat malam dan baca qur’an, kira2x 10 menit s/d setengah jam per tiap waktu shalat
2. Mengurus anak ; dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi pada malam hari
3. Memasak ; baik itu sarapan, makan siang dan malam, maupun camilan

   3 aktivitas tidak penting :
1. Main hp ; mulai dari cek message, ngintip facebook dan window shopping online
2. Tidur siang > 1/2 jam ; ngeloni anak, yang seringnya ikut bablas tidur juga
3. Nonton TV ; terutama acara gosip, yang alhamdulilah makin kesini makin ga kebagian waktu, sehingga seringnya TV hanya nyala saat weekend jika anak2x request aja

     Jujur selama ini waktu saya banyak tersita untuk mengurus anak dan main hp. Untuk mengurus anak sebetulnya udah cukup terbantu oleh suami dan anak. Pagi hari adalah jadwalnya suami memegang anak2x, mulai dari mereka bangun tidur sampai mengantar ke sekolah. Sementara saya pegang dapur (bikin sarapan, belanja ke warung dan menyiapkan bahan untuk masak siang. Rutinitas saya hanya mengurus si adik saat pulang dari ikut mengantar kakak sekolah, mengeloninya tidur, lalu jemput kakak pulang sekolah, menemani mereka tidur siang, mandi sore, makan malam, shalat maghrib yang dilanjut dengan hafalan surat dan doa pendek untuk kakak, sampai tidur malam. Sedangkan untuk makan siang, anak2x di pegang ART, sementara saya shalat dan lanjut ikut makan.

     Terlihat simple dan banyak waktu luang memang kelihatannya, tapi kenyataannya cukup ribet. Saat tidur pagi, si adik seringkali tidak nyenyak sehingga rewel (maunya ditungguin terus) dan membuat kegiatan masak agak terganggu dan molor. Lalu saat tidur siang sekitar jam 2-an, anak2x juga kerap masih asyik bermain dan jadwal berubah menjadi mandi sore pada pukul 3 atau setelah asar, baru setelah itu tidur. Saat menemani mereka tidur, tidak jarang saya juga keenakan bablas ikut tidur, bahkan lebih dari 1 jam 😂. Untuk urusan makan, anak2x saya juga tergolong yang lama, sehingga membuat mamanya harus extra sabar, baca menahan emosi 😜. Jika anak lain bisa selesai makan dalam waktu maximal setengah jam, maka anak2x saya bisa menghabiskan waktu 1-2 jam. Itu berlaku tidak hanya pada si kakak yang udah makan sendiri, tapi juga si adik yang masij disuapin. Jadi klo mereka mulai makan malam sekitar jam 7-an, kira2x baru akan selesai pada jam 8-9, cukup bikin saya tarik ulur emosi alias panjang usus.

     Untuk masalah hp, jujur juga susah banget. Seringnya bangun tidur setelah matiin alarm langsung cek inbox, bahkan ngintip facebook dengan alasan untuk “ngebuka mata” yang masih sepet -tepok jidat 😩-.

     Sepertinya yang harus d beri kandang waktu adalah rutinitas dari jam setengah empat pagi sampai jam 11 siang.

     Adapun untuk jadwal keseharian yang selama ini berlaku adalah sbb :
03:30-05:30 bangun, shalat malam, zikir,
                     ngaji, shalat subuh
05:30-07:00 bikin sarapan, nyiapin bekal,              
                     nyicil untuk masak siang
07:00-08:00 menemani anak2x sarapan
                     dan nyuapin adik
08:00-09:00 olahraga, mandi, shalat dhuha
09:00-09:30 ngeloni adik tidur
09:30-11:00  masak
11:00-12:00  main sm adik, siap2x jemput
                    Kakak
12:00-13:00 jemput kakak
13:00-14:00 shalat, makan
14:00-15:00 ngelonin anak2x, ikut tidur
                    Siang
15:00-17:00 ngangkat jemuran, shalat asar
                    Ngangetin makanan, ngaji,
                    Mandi
17-00-18:00 mandiin anak2x
18:00-19:00 shalat maghrib, hafalan untuk
                    Kakak
19:00-20:00 makan malam, nyuapin adik
20:00-21:00 cuci piring, main sama anak
21:00-22:00 nyiapin anak pergi tidur,
                    Shalat isya, tidur

     Ini prakteknya sering banget melenceng, mulai dari telat bangun sampe yang ujung2xnya anak2x baru tidur jam 11 malam dan saya tidur jam setengah 12 malam. Ini juga yang sering (bahkan banget) bikin saya cuma setor nama/absen doang saat kelas berlangsung (punten banget ya mba maria, boleh di jewer niy 😓), karena saat kelas berlangsung urusan domestik saya belum selesai, karena saya juga lagi berusaha keras untuk tidak pegang hp saat bersama dengan anak, terutama saat menemani mereka makan ataupun nyuapin, karena klo saya nemenin mereka makan sambil ngerjain hal lain, yang ada mereka juga makannya tambah disambi main dan lari2x.

     Jadwal ini pun sekitar 2 minggu lagi harus direvisi karena si kakak mulai masuk sd, yang pulang jam setengah 2 siang dan harus dibawain bekal makan siang, bukan sekedar snack aja. Semoga dalam 1 minggu ini (10-17 juli 2017) jadwal ini bisa ditaati dan saya bisa mendisiplinkan diri sendiri, amin.