Jumat, 21 September 2018

Review kel 5 : Menumbuhkan dan Menjaga Fitrah Seksualitas

Day 2 : Menumbuhkan dan Menjaga Fitrah Seksualitas

Assalammualaikum,

Apa itu fitrah seksualitas ?

Menurut KBBI, fitrah/fit-rah/n berarti sifas asal; kesucian; bakat; pembawaan. Sek-su-a-li-tas/seksualitas/n 1ciri, sifat, atau peranan seks; 2dorongan seks; 3kehidupan seks.
Maka itu dengan memahami dirinya untuk bersikap, berpikir, bertindak sesuai dengan gendernya yang berkaitan dengan keunikan atau keistimewaan dalam menjalankan perannya di masyarakat. 

Apakah penting untuk dibangkitkan ?
Tentu saja sangat penting, karena mempengaruhi perilaku dan pola pikir seseorang sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Tujuan menumbuhkan fitrah seksualitas :
Agar lebih dapat mengetahui makna dan tujuan hidup kita didunia. Mereka yang mengabaikan atau terjadi ketidaktuntasan fitrah seksualitas menjadi masalah jati diri yang nantinya tidak dapat memiliki keberanian untuk melindungi dirinya. Sudah banyak terjadi pada saat ini orang-orang yang labil, ikut-ikutan dan berjalan tanpa arah. Hal ini membawa dampak yang sangat besar, salah satu contohnya LGBT.

Tantangan dalam menumbuhkan fitrah seksualitas :
1. Komunitas LGBT dan Pedophilia
   Menurut KPAI pada tahun 2017 bahwa kasus LGBT menjadi permasalahan kedua terbesar anak di Indonesia. Komunitas LGBT telah mengkampanyekan orientasi seksual menyimpang mereka secara masif , cepat dan terorganisir.  Bisa kita temukan ada beberapa negara yang sudah melegalitaskan komunitas ini , seperti Amerika dan beberapa negara Eropa. Melalui penyebaran media sosial saat ini lebih sering menampilkan foto dan tayangan yang tidak baik untuk anak. Anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan telah menjadi sasaran empuk predator LGBT, karena belum mampu menyaring informasi yang sesuai dengan perkembangan dirinya.
2. Teladan/contoh 
  Sejak manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala watak fitrah manusia kecendrngan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya, bisa dalam kebaikan maupun keburukan. Jika kita memperhatikan kondisi saat ini, kita akan mendapati suatu kenyataan yang sangat memprihatinkan, karena kebanyakan justru mengagumi dan mengidolai orang-orang yang tingkah laku dan gaya hidup mereka sangat bertentangan dengan fitrah manusia.
Pembiaran yang keliru ini berdampak yang kurang baik dna tidak sesuai fitrah banyak ditemukan di masyarakat, seperti dianggap lumrah perempuan berpakaian dan bersikap seperti laki-laki (tomboi) dan sebaliknya, karakter laki-laki melambai dan perempuan kekar/macho, dll. 
3. Kesalahan pengasuhan
  Kurangnya ilmu pengetahuan tentang seksualitas pada orangtua sehingga menyebabkan penyimpangan fitrah seksualitas bukan genetik tetapi karena kesalahan dari orangtua itu sendiri. Contohnya : 
🌼orang tua kerap kali melakukan kesalahan pengasuhan 
🌼lalai dalam mengajarkan tentang fitrah seksualitas dalam Pendidikan
🌼tidak bisa menjaga anak dari penularan perilaku lingkungan.

Untuk solusi, diperlukan dukungan dari berbagai lingkungan :
1. Lingkungan rumah :
a. Menanamkan aqidah yang kuat pada anggota keluarga terutama anak.
b. Orang tua menjadi teladan dalam menjaga aurat dan menjalankan peran sesuai fitrahnya. 
c. Orang tua belajar cara menumbuhkan fitrah seksualitas sesuai rentang usia. 
d. Seks education sejak dini 
e. Perhatian dan kasih sayang dari orang tua. 
f. Pendidikan dari rumah bergantung kehadiran, kedekatan, dan kelekatan ayah ibu secara utuh dari lahir sampai aqil baligh.
2. Lingkungan masyarakat
a. Seks education di lingkungan
b. Penyuluhan dan pengawasan secara berkala
c. Menguatkan aqidah dalam masyarakat dengan cara merutinkan kajian
3. Lingkungan negara/Lembaga Pemerintahan
a. Membuat & mengesahkan UU Perlindungan anak 
b. Membuat UU tentang penyimpangan seksualitas

Cara menumbuhkan fitrah seksualitas berdasarkan unur :
1. 0-2 TAHUN
Pada usia ini, anak-anak sedang mengembangkan rasa ingin tahu termasuk memahami dari setiap bagian tubuhnya. Mengenalkan nama dan memberikan persepsi bagian kelamin adalah hal yang wajar, bukan hal yang tabu. Inilah saat yang tepat untuk mengenalkan perbedaan anggota tubuhnya dengan anggota tubuh orang dewasa dan melihat perbedaan laki-laki dan perempuan, serta mampu mengidentifikasi jenis kelamin orang-orang yang dijumpainya.
2. 2-5 TAHUN
Setelah anak mengetahui nama dan perbedaaan bagian kelamin, pada usia 2-3 tahun, ajari anak kegiatan toilet training dan cara membersihkan dan memelihara kesehatan alat kelaminnya secara bertahap. Dalam tahap ini anak akan mulai bertanya mengenai kehamilan dan melibatkan peran gender kedalam kehidupan mereka. Misal mobil-mobilan adalah mainan anak laki-laki, sementara boneka cantik adalah mainan anak perempuan. Sehingga ia tidak mau bermain dengan mainan yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh perlakuan orangtua kepada anaknya. Semakin orangtua membedakan peran perempuan dan laki-laki secara umum, anak juga semakin melihat perbedaan jenis kelamin dalam kehidupan sehari-harinya.
Selain itu ajarkan pada anak-anak rasa malu saat alat kelaminnya terlihat orang lain. Sehingga anak juga akan malu jika menyentuh alat kelaminnya didepan umum.
3. 5-9 TAHUN
Semakin berkembang anak pada usia ini sudah mulai membedakan peran gender secara umum. Misalnya ayah dan ibu berperan sebagai orangtua yang bertanggungjawab terhadap anak-anak. Lalu ajarkan anak cara mengekspresikan kasih sayang dengan rescpect, dengan menunjukkan rasa berterima kasih jika diberikan suatu hadiah dari orangtua dan kerabat dekatnya. Mungkin anak akan bertanya berbagai macam hal.  Dengan pemahaman perbedaan gender semakin tinggi, orangtua bisa kenalkan arti pernikahan bahwa setiap orang bisa memilih pasangan untuk menikah atau dijodohkan.
4. 9-12 TAHUN
Di usia ini anak tak hanya tahu perannya, namun juga bertanggungjawab sebagai anggota keluarga, misalnya kakak dan adik saling menjaga selama bermain. Jika ada hal yang membahayakan, kakak atau adik harus segera memberitahu ayah atau ibu. 
Komunikasi antar anggota keluarga penting dalam mengambil keputusan. Karena tahapan usia ini anak sudah dikenalkan dengan tanggungjawab, jadi sangat disarankan meminta pendapat mereka dalam musyawarah keluarga. Anak akan merasa dihargai dan lebih percara diri untuk mengungkapkan isi pikiran mereka. Begitu juga dalam hal memilih teman. Orangtua bisa mulai mengajarkan pertemanan yang sehat, agar bisa diarahkan untuk pengembangan social yang baik, seperti kerjasama, tolong menolong, berbagi, simpati, empati dan saling membutuhkan satu sama lain. Pengetahuan dan pengalaman anak-anak akan semakin kaya. Dengan memperkenalkan anak tentang menjadi orangtua dan rasa bertanggung jawab sebagai suatu pembiasaan positif agar mampu mengendalikan diri dan memanfaatkan emosi secara produktif.
5. 15-18 TAHUN
Setelah anak sudah mulai memahami struktur anatomi genital dan fungsi-fungsinya serta perbedaan gender, disini orangtua bisa menjelaskan berbagai macam penyimpangan seksual dan tantangan yang terjadi serta menyikapi pandangan masyarakat memandang kondisi tersebut. 
Tahap usia ini adalah masa perkembangan orientasi masa depan, sebagai individu yang sedang mengalami proses peralihan dengan mengarahkan pada persiapan memenuhi tuntutan dan harapan peran sebagai orang dewasa, orangtua dapat mengajarkan anak untuk mencari nafkah (laki-laki) dan merawat makhluk hidup (perempuan).


Jatibening, menjelang jam 12 malam
Dian Meridha Giza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar